Wednesday, August 17, 2011

little indiana jones





Bindi di Candi Prambanan




Jalan-jalan di Candi Sambisari
Kami mulai mengajak Baby Bindi berwisata arkeologis setelah usianya 8 bulan ke atas. Saat itu Bindi sudah bisa duduk sendiri dengan nyaman dan sudah mulai tampak menikmati perjalanan. Bindi juga sudah bisa diajak berlama-lama di luar ruang selama beberapa jam. Setelah yakin dengan kondisi fisiknya yang cukup kuat, barulah kami mengajaknya jelajah candi.  

Candi pertama yang kami kunjungi adalah kompleks Candi Ratu Boko yang terletak sekitar 3 km arah ke timur Candi Prambanan. Kompleks Candi Ratu Boko terletak di atas bukit. Jika menggunakan transportasi umum, penumpang akan turun di pinggir jalan raya Prambanan – Wonosari dan naik mendaki bukit. Lumayan ngos-ngosan, meski sudah dibuatkan tangga khusus untuk mencapai komleks candi. Paling enak memang menggunakan kendaraan pribadi, sehingga bisa langsung memarkir kendaraan di pelataran candi. Hemat energi, mengingat untuk menyusur kompleks Candi Ratu Boko ini yang cukup luas dan banyak tangga naik turunnya ini juga butuh energy ekstra. Apalagi sambil menggendong Baby Bindi.
Saat itu usia Bindi pas 8 bulan dan belum bisa berjalan, sehingga kami mengangandalkan ransel gendongan. Travel gear yang tepat digunakan untuk menjelajah kompleks candi memang ransel gendongan, bukan stroller. Stroller hanya akan membuat kita kerepotan karena jalan di kawasan candi biasanya tidak rata, bahkan ada beberapa anak tangga yang harus dilalui seperti di kompleks Candi Ratu Boko. Dengan ransel gendongan bayi, kita lebih leluasa menjelajah kompleks candi tanpa hambatan. 

Perjalanan pertama jelajah kompleks Candi Ratu Boko ternyata sukses. Bindi nggak rewel meski diajak berpanas-panas. Saat kami beristirahat di bawah pohon kelapa, duduk-duduk di atas batu-batu candi untuk membuka bekal makanan, Bindi juga tampak enjoy. Dia menyantap makanannya dengan lahap. Begitu kenyang dan kembali naik ke ransel gendongan, Bindi langsung tertidur. Dasar bocah! 

Setelah sukses melewati ujian petualangan candi, kami pun merencanakan trip ke candi lagi. Seminggu kemudian, kami mengajak Bindi ke Candi Prambanan ditemani travel gear andalan kami, ransel gendongan. Kompleks Candi Prambanan jauh lebih tertata daripada Ratu Boko yang lebih alami. Penataan Candi Prambanan yang berkonsep taman ini membuat kawasan candi terlihat lebih asri, bersih, dan bikin nggak berasa capek meski harus mengitari kompleks candi karena pintu masuk dan keluar jalurnya berbeda. 

Pada perjalanan kedua jelajah candi ini, Bindi makin terlihat daya tahan tubuhnya yang prima. Dia nggak bobok lagi di ranselnya. Malah mulai ngajak bercanda dengan narik-narik rambut saya atau bapaknya yang bergantian menggendong dengan ransel. Melihatnya tampak makin enjoy diajak bertualang kawasan candi, saya pun lantas mengagegendakan trip ke candi lainya, “kapan-kapan ke Borobudur, yuk,” ajak saya pada Edo yang langsung disetujui. Tinggal mengatur waktu bangun pagi saja, mengingat perjalanan dari Yogya ke Borobudur setidaknya butuh 45 menit. Artinya, kami harus berangkat pagi-pagi supaya sampai tujuan matahari belum terlalu tinggi. 

Sayangnya, belum sampai niatan ke Candi Borobudur kesampaian, erupsi Gunung Merapi yang terjadi sepanjang bulan Oktober 2010 lalu membuat kami perlu menunda agenda jelajah Candi Borobudur. Apalagi muntahan lahar dingin yang sempat berulang kali memutuskan jalur Yogya – Semarang, rasanya kami perlu menunda beberapa bulan atau tahun lagi deh. 

Kami pun mengalihkan trip ke candi-candi lain di sekitar Yogya. Ada puluhan candi-candi kecil yang menarik dijelajahi. Salah satunya adalah Candi Sambisari yang terletak tak jauh dari bandara Adisutjipto. Dari jalan raya Yogya – Solo, sekitar 1 km timur bandara, terdapat jalan ke utara menuju Candi Sambisari. Kira-kira 2 km jauhnya dari ruas jalan utama Yogya – Solo. 

Candi Sambisari ini sangat unik, karena terpendam di bawah tanah. Konon, candi ini ditemukan tanpa sengaja oleh seorang petani bernama Karyowinangun pada tahun 1966. Ketika ia tengah mencangkul sawah, tiba-tiba cangkulnya terantuk bongkahan batu. Saat ia mencoba menggali lebih dalam lagi, rupanya bongkahan batu itu penuh pahatan. Oleh dinas purbakalan, sawah milik Karyowinangun kemudian ditetapkan sebagai suaka purbakala.
Setelah melakukan penggalian dan penelitian selama kurang lebih 21 tahun, barulah terlihat wujud candi Hindu (Siwa) yang diperkirakan dibangunan pada abad ke-9. Rupanya akibat letusan hebat Gunung Merapi yang diperkirakan terjadi pada tahun 1006 M, candi ini jadi tertimbun lahar. Setelah ratusan tahun, lahar yang memadat itu menjadi permukaan tanah di mana di atasnya warga bercocok tanam. Itulah sebabnya, Candi Sambisari berada sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah.

Saat mengunjungi  Candi Sambisari, Bindi sudah berusia 1,5 tahun dan sudah bisa berlarian. Kami sudah tidak perlu lagi membawa ransel gendongan, mengingat Candi Sambisari ini cukup mungil jika dibandingkan Candi Prambanan, Ratu Boko, dan Borobudur. Luas kawasan Candi Sambisari sekitar 50 x 48 meter, nggak bakal melelahkan buat Bindi. Kalaupun dia minta gendong saat menuruni atau menaiki tangga candi, bisa kami gendong tangan biasa, tak perlu dengan gendongan. 

Tips Jelajah Candi
·         Pilih waktu saat matahari condong ke timur (pagi) atau ke barat (barat) supaya tak terlalu terik. Loket candi biasanya sudah buku pada pukul 06.00 dan tutup pada pukul 17.30.
·         Gunakan travel gear yang nyaman seperti ransel gendongan. Jika tak memiliki, bisa menggunakan gendongan bayi jenis ransel yang diliangkan di punggung.
·         Payung dan topi jangan sampai ketinggalan ya.
·         Bawa minuman botol ekstra biar nggak dehidrasi di tengah jalan.
·         Diapers dan perlengkapan ganti sebaiknya juga dibawa serta, jangan ditinggal di mobil.

Monday, August 15, 2011

cokelat

cokelat Ratu Victoria dari London


Rasa-rasanya saya belum pernah bertemu orang yang nggak doyan coklat. Yang ada kebalikannya. Kebanyakan orang sangat doyan coklat, apalagi jika ada yang ngasih saat hari Valentine atau oleh-oleh dari traveling.

Saya jadi ingat kisah lenyapnya beberapa keping coklat yang bikin heboh teman-teman sekantor. Kepingan coklat bergambar Ratu Victoria dengan diameter 12 cm itu adalah sebagian dari oleh-oleh yang saya bawa dari London (2007). Saya membelinya di National Portrait Gallery, London. Harga per keping sekitar 4 pounds dengan kurs rupiah pada saat itu Rp 18.500,-.

Ada 12 keping yang saya bagikan pada mereka, 11 keping untuk teman-teman di kantor dan 1 keping untuk penjaga malam. Kepingan cokelat itu tersimpan manis di kulkas sepanjang hari supaya nggak lembek kena hawa tropis. Sore, ketika pulang, mereka mengambilnya.

Sunday, August 14, 2011

daypack

me & timberland
Salah satu piranti jalan andalan saya adalah daypack alias ransel kecil  18 - 24 liter. Biasanya kalau lagi backpacking lebih dari seminggu, saya menggunakan dua ransel yaitu ransel backpacker yang ukurannya di atas 45 liter yang berisi segala perlengkapan saya dan ransel daypack yang isinya lebih ringan seperti lonely planet, agenda, botol minum, dan travel wallet untuk menyimpan dokumen perjalanan. Tapi kalau perginya cuma sebentar, 2-4 hari, biasanya saya hanya menggunakan daypack 24 - 30 liter saja.

Dalam keseharian, saya juga biasa menggendong daypack ini, termasuk buat ngantor. Bahkan ransel ini juga sering saya jadikan diaperbag, tempat nyimpen diaper dan perlengkapan bayi kalo lagi jalan sama sama Baby Bindi.

Monday, June 13, 2011

Oleh-oleh dari Ubud Travel Writing Trip | 2-5 Juni 2011



DAY -1 (June 1, 2011)
Sehari sebelum workshop penulisan perjalanan, sudah ada peserta yang tiba di Ubud, yaitu Windy (Jakarta) dan Vonny (Bandung). Mereka tiba pada sore hari hampir bersamaan, hanya selisih beberapa menit.Saya sendiri tiba di Ubud siang hari dan sepanjang siang hingga sore saya habiskan dengan leyeh-leyeh di teras kamar yang menghadap ke sawah.

Malamnya, kami keluar makan bertiga ke Igelanca Resto (Jl. Ubud Raya) langganan saya yang harganya relatif murah untuk ukuran Ubud. Sembari makan malam itu, kami merancang agenda untuk jalan-jalan besok pagi. Mumpung peserta lain belum berdatangan dan agenda resmi Ubud Travel Writing Trip (Ubud TWT) belum resmi dimulai. Sayang kan, kalo pagi di Ubud hanya dibiarkan berlalu di atas kasur?


Monday, May 2, 2011

penulis dan pembaca

pelajaran berharga yang terus tertanam dalam benak sebagai penulis adalah berbesar hati ketika karya kita dikritik orang lain. sewaktu remaja dulu hingga kuliah, saat saya sering nulis cerpen di majalah hai, gadis, aneka, dan mode, saya sudah sering diolok-olok teman karena nulis cerpen roman, cinta-cintaan remaja. harap maklum, saat itu saya bergaul sama temen-temen aktivis pers mahasiswa yang sering nulis opini di koran dengan tema politik. sementara itu, di fakultas sastra tempat saya belajar (meski saya ngambil jurusan antropologi), cerpen-cerpen saya juga nggak dianggep sebagai karya sastra besar, alias sastra pop yang bagi sebagian orang mungkin dianggep karya ecek-ecek.

tapi saya tidak pernah minder atau rendah hati. saya juga tidak merasa mereka tengah merendahkan saya. mereka mungkin mengritisi karya saya, tetapi bukan berarti menjelekkan. mengkritisi dan menjelekkan adalah dua hal yang berbeda. yang satu bersifat positif meskipun kadang-kadang terasa menohok dada, yang satu lagi bernada negatif yang biasanya didasari rasa dengki.

Friday, April 29, 2011

ngopi bareng penulis

mimpi saya tentang forum ini

Sembari Minum Kopi (SMK) merupakan forum untuk penulis dan pembaca yang saya bentuk pada tahun 2007. Ide ini berawal dari ketertarikan saya di bidang tulis-menulis dan keinginan untuk mempertemukan penulis dengan pembacanya agar bisa saling menginspirasi.

Penulis pertama yang mengisi forum SMK adalah Andrea Hirata. Saya mengundangnya setelah membaca novel ketiganya, Edensor (Bentang Pustaka, 2007) berkisah tentang perjalanannya mengelilingi Eropa. Saat saya mengontaknya dan memintanya berbagi tips tentang backpacking dan travel writing, Andrea sangat antusias. “Temanya menarik sekali,” katanya merespon tawaran yang berbeda dari forum-forum diskusi yang pernah diikutinya kala itu.

Forum SMK pertama bertema “Menuliskan Kisah Perjalanan”  bersama Andrea Hirata ternyata mendapat sambutan yang luar biasa. Sejumlah peserta bahkan ada yang bela-belain datang dari luar kota, sekalian weekend di Jogja. Jadilah saya makin pede untuk menghidupkan forum ini dengan menghadirkan penulis-penulis lain. Setelah Andrea Hirata, penulis yang pernah mengisi forum SMK adalah novelis Putu Fajar Arcana, Kris Budiman, dan Sapardi Djoko Damono.

Wednesday, March 30, 2011

H - 2 = Packing

print out tiket & reservasi hotel
Dua hari menjelang traveling, biasanya saya sudah mulai menyiapkan segala macam yang bakal kami bawa. Sebenarnya H - 2 ini terlalu mepet, mengingat bawaan Baby Bindi lumayan beragam. Makanya, saya memulainya dengan menyusun packing check-list. Ini dia daftar bawaan yang akan kami bawa untuk traveling ke Singapore selama 4D3N.

Packing Checlist:
  • Print Out online reservation: tiket pesawat, tiket universal studio, booking hotel
  • Travel gear: stroller.
  • Feeding Kit : 2 botol susu 250ml, sendok makan, tumbler, tempat makan tupperware
  • Cooking Set ukuran kecil yang bisa buat rebus/kukus
  • Perlengkapan mandi, perlengkapan cuci feeding kit, diapers, obat-obatan
  • Pakaian, baju renang, topi, sepatu sandal,
Sebelum menyusun packing check list ala kadarnya ini, biasanya saya sudah lebih dulu membersihkan luggage dan stroller. Lalu secara bertahap saya kumpulkan satu persatu segala tetek bengek bawaan Baby Bindi itu. Sebisa mungkin, sebagian besar yang ada dalam checklist itu sudah terkumpul pada H - 2.

Esok harinya, yaitu H - 1, barulah saya mulai menyiapkan pakaian saya dan suami. Begitu semua pakaian kami bertiga terkumpul, mulailah kami menjejalkannya ke dalam Cellini luggage andalan kami. Sebisa mungkin semua bawaan masuk dalam luggage dan dibagasikan, sehingga kami cukup menggendong day pack yang berisi keperluan botol susu, biskuit, diaper dan pakaian ganti buat jaga-jaga selama dalam perjalanan.

Thursday, March 24, 2011

karya lama, regoljogja travel fremagz


Jauh sebelum penerbitan buku-buku traveling menjadi booming di Indonesia, saya sudah nerbitin travelmagz loh. Namanya REGOLjogja. Tagline-nya: travel - leisure - culture. REGOLjogja ini merupakan freemagz alias dapat diperoleh dengan gratis. Meskipun gratisan, tapi bukan berarti isinya kumpulan advertorial. Enggak banget. Ini proyek idealis, jadi nggak sembarangan boleh masang iklan. 

Mungkin gara-gara idealis juga, jadi kekurangan dana untuk memproduksinya. Tapi sebenarnya, problem utamanya pada soal timkreatif yang terbatas. Tidak ada timkreatif yang khusus menangani REGOLjogja alias timkreatifnya sama dengan timkreatif di REGOLmedia, perusahaan saya. Begitu banyak kerjaan di REGOLmedia, kami jadi keteteran ngurusin REGOLmagz..heheh. Akhirnya majalah itu pun bertahan hanya 5 edisi. 

Wednesday, March 23, 2011

coba-coba membaca pembaca bukuku..

sastra perjalanan karya pertamaku
Tiga buku perjalanan yang sudah saya tulis, membuat saya merenung-renungkan efeknya bagi pembaca. Buku pertama, TALES from the ROAD (2009), sungguh membanggakan karena mendapat banyak pujian hingga terpilih dalam 5 besar buku non fiksi pilihan pembaca dalam Festival Pembaca Indonesia 2010 lalu. Pujian yang datang tidak selalu berimplikasi pada oplah penjualan, tidak masuk kategori best seller. Berbeda dengan buku berikutnya yang saya tulis EUROTRIP: Safe & Fun (2010) yang dalam waktu tiga bulan sudah langsung dicetak ulang. Naga-naganya, buku ketiga saya UKTRIP: Smart & Fun (Maret, 2011) akan mengikuti jejaknya. Semoga...

Meskipun oplah buku EUROTRIP sangat menggembirakan, tapi buku laris manis ini ternyata tidak direview oleh banyak pembaca. Harap maklum, namanya juga buku guidance, males banget dong mereview-nya. Tapi lumayanlah, saya masih mendapat pujian lisan bahwa gaya menulis saya tetep beda dengan para penulis buku guidance lainnya. Tetep kelihatan antropologinya seperti yang terasa di TALES from the ROAD.

Lalu, sebagai penulis, apa komentar dan perasaan saya? 

Tuesday, March 22, 2011

kraton, tamansari, alun-alun




atas: di pulo cemeti; bawah: benteng kraton di jl kasatriyan
Paket wisata yang menjadi destinasi utama jika ingin berwisata ke Yogya itu hampir setiap hari disambangi Bindi sejak bayi. Setiap pagi, kami mengajak Bindi jalan-jalan ke Alun-alun dan pelataran Kraton dengan menggunakan kereta dorong (stroller). Biasanya kami berangkat dari rumah pukul 6.00, setelah Bindi mandi pagi, dan kembali ke rumah sekitar pukul 07.30. Lumayan kan satu setengah jam menghirup udara segar sembari menikmati kawasan Jeron Beteng yang dibatasi dinding-dinding tinggi. 

Rute yang kami tempuh, ada tiga jalur pilihan yang biasanya kami lakukan secara bergantian, yaitu jalur utara, jalur selatan, dan jalur barat. Jalur ini diambil dari lokasi tempat tinggal kami di jalan Magangan Kulon, yang jika dilihat dalam peta terlatak di tengah-tengah kompleks Kraton. Jika ingin jalan-jalan ke Kraton dan Alun-alun Utara, kami ambil jalur utara. Jika ingin ke Alun-alun Selatan ya ngambil jalur selatan. Sementara jika ingin ke Tamansari kami akan berjalan kaki kea rah barat. 
Biar terasa lebih seru, kami memilih jalur yang menyusur kampung. Rute berangkat dan pulangnya pun juga berbeda. Misalnya, jalur utara mau ke Kraton. Rute berangkat dari rumah ð Kemagangan ð Jl. Kasatriyan ð Jl. Kemitbumen ð Keben/halaman depan Kraton ð pulang lewat Jl. Rotowijayan ð Jl. Sidomukti ð nDalem Pakuningratan ð rumah. Jalur selatan ke Alun-alun Selatan adalah: rumah ð Kemagangan ð Kemandungan ð Sasana Hinggil (Alun-alun Selatan) ð pulangnya menyusur kampung Ngadisuryan ð rumah. Jika ke Tamansari dari rumah ð pasar Ngasem ð Pulo Cemeti (kawasan Tamansari) ð Sumur Gumuling ð susur lorong/tunnel (underground) ð kompleks pemandaian Tamansari ð pulang lewat kampung Ngadisuryan ð  rumah.

Rute menyusuri kawasan heritage berusia ratusan tahun ini sungguh menyenangkan. Dinding-dinding kraton yang tinggi memagari jalanan lengang yang kami lewati. Juga gapura dan regol (pintu gerbang) bagian kraton yang ada di Kemagangan dan Kemandungan yang dilengkapi patung dua naga dengan kedua ekornya saling melilit. Dua patung naga ini merupakan ‘suryasengkala’ yang berbunyi Dwi Naga Rasa Tunggal  menyimbolkan tahun 1628 (tahun Jawa) atau 1756 M, tahun saat kraton mulai dibangun. Itu berarti setahun setelah terjadinya perjanjian Giyanti 1755 yang membagi Kerjaan Mataram menjadi dua: Kasultanan Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat.




Bindi dan Dwi Naga Rasa Tunggal

Kemagangan dan Kemandungan merupakan playground favorit buat momong dan nyuapin  Baby Bindi hingga kini. Selain karena jaraknya hanya sekitar 300 meter dari rumah kami, kawasan ini merupakan area terbuka yang luas dan terdapat sejumlah pohon rindang. Jika sewaktu bayi Bindi hanya pasrah di atas strollernya, kini ia bisa berlarian riang mengitari kompleks bagian belakang kraton ini. Ia juga tampak menyukai patung naga, menunjuk-nunjuknya sambil menyebut “nogo”. 

Playground favorit selain Kemagangan dan Kemandungan adalah Pulo Cemeti, salah satu bagian dari kompleks Tamansari Water Castle. Pulo Cemeti ini letaknya persis di belakang pasar Ngasem yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah kami arah ke barat. Pulo Cemeti merupakan reruntuhan bangunan yang konon cukup tinggi. Jika kita berjalan dari arah utara menuju Pasar Ngasem, akan tampak di belakang pasar bangunan kuno yang tinggi dan bagian atasnya sudah tidak utuh lagi. Bagian atas ini dulunya bisa dinaiki karena memang terdapat tangga menuju ke sana. Dari bagian atas Pulo Cemeti itu kita bisa melihat kota Yogya. Saat ini Pulo Cemeti sedang dalam tahap restorasi sehingga pengunjung tidak diperkenankan naik ke atas bangungan. Sementara itu bagian bawah bangunan Pulo Cemeti ini cukup luas sehingga Baby Bindi bisa berlarian di sana. 

Selain Pulo Cemeti, tempat yang juga enak buat berlarian buat bayi yang belum lama bisa berjalan sendiri adalah bangunan bawah tanah atau tunnel. Tunnel ini dulunya merupakan jalan yang dibangun untuk menghubungkan kompleks Tamansari dengan, konon katanya, Laut Selatan. Yang jelas, saat ini tunnel yang masih bisa dilalui hanya sepanjang sekitar 100 meter, yaitu dari Pulo Cemeti ke arah selatan menuju kompleks pemandian. 

Sudah pasti, setiap jalan-jalan pagi menyusur kawasan heritage ini kami tak pernah meninggalkan kamera poket, minimal ponsel berkamera. Sayang rasanya melewatkan foto Baby Bindi berlatar bangunan heritage yang sudah berusia ratusan tahun. Bahkan kami nggak pernah bosan mengabadikan segala polah Baby Bindi, sejak ia masih di atas stroller hingga sudah gesit berlari, meski tempat itu terlalu sering kami kunjungi.

Wednesday, March 16, 2011

[singapore] hotel atau apartemen?

Pool @Robertson Quay Hotel (image: booking.com0
Seorang kawan menyarankan jika plesiran ke Singapore bersama keluarga, mendingan nginep di apartemen. Tarifnya murah, fasilitasnya komplit, ada living room, juga ada pantry/dapur segala. Sudah pasti saya langsung meng-copas link apartemen yang bisa disewa harian dan memulai perburuan. Apartemen yang saya incar adalah Lucky Plaza (hiks, berasa napak tilas jejak Gayus aja) yang terletak di kawasan Orchard Road. Alasannya sederhana saja, karena dari browsing ternyata banyak orang Indonesia yang memiliki apartemen di Lucky Plaza dan disewakan harian. Tarif yang ditawarkan pun nggak jauh dari budget yang saya patok, antara $100 - $140 per malam.

Setelah menemukan apartemen incaran itu, saya mengisi form order yang disediakan. Dalam waktu kurang dari 24 jam, saya sudah mendapat jawaban dari pemilik apartemen via e-mail.Ada dua opsi apartemen di Lucky Plaza  yang diberikan, yaitu apartemen dengan private bathroom ($180) dan sharing/outside bathroom ($100). Weitzz..kalau kamar mandi di luar, repot dong nanti kalau malam-malam Baby Bindi pengin pup. Juga, Bindi kan suka main air, kalau mandi suka berlama-lama. Gimana kalau nanti ada tamu lain yang ngantri? Repot banget. Tapi, jika pilih private bathroom yang harga sewanya semalem $180 apa nggak mending pilih hotel saja?

Jadilah saya banting setir, googling hotel lewat situs www.booking.com dan www.agoda.com. Oh ya, kedua situs ini kini menjadi andalan saya untuk reservasi hotel jika traveling bersama Baby Bindi (lupakan situs andalan backpacker www.hostelworld.com untuk sementara. Haha...!). Kedua situs ini memberikan banyak pilihan hotel dengan tarif promo (bukan published rate) di seluruh dunia. Bedanya, jika memesan kamar lewat Agoda.com kita harus membayar lunas dengan kartu kredit, sedangkan Booking.com kebalikannya, kartu kredit kita hanya dijadikan tanda reservasi tanpa dikenai charge. Booking.com juga memberikan batas waktu pembatalan reservasi tanpa kena charge. Jangka waktu ini akan berbeda pada tiap hotel yang kita pesan. Semua pembayaran baru dilakukan pada saat kita check in di hotel yang kita pesan dengan menggunakan kartu kredit yang kita gunakan untuk booking.

Hasil perburuan lewat kedua situs itu akhirnya menjatuhkan pilihan saya pada hotel Robertson Quay Hotel yang saya pesan via booking.com. Tarifnya lebih murah daripada tarif apartemen dengan private bathroom, yaitu $130 ($50 lebih murah!). Sudah begitu, lokasinya deket Singapore River pula, lokasi favorit. Sebelum menemukan Robertson, sebenarnya saya hampir menjatuhkan pilihan pada Novotel Clark Quay yang menawarkan tarif promo $200 per malam. Duluuu banget kebetulan pernah menginap di sana dan terasa betul nyamannya. Pinggir sungai persis, enak buat jalan-jalan, jendela kamarnya ngadep ke sungai, dan menyatu dengan mall dan ada toko buku Kinokuniya-nya. Tapi dipikir-pikir, kok berasa mewah banget ya. Tiga malam menginap di Novotel berati hampir sekitar 5 juta, padahal tiket promo Air Asia Jogja - Spore return untuk kami bertiga hanya sejuta.

Ya sudahlah, yang realistis saja. Robertson sudah cukup pas buat kami. Fasilitas kamarnya lumayan nyaman untuk mengumbar Baby Bindi. Sudah begitu ada kolam renangnya pula. Makin kegirangan saja, karena Bindi bisa main kecipak air setiap hari. Hhmm..ternyata hotel juga merupakan destinasi wisata buat Baby Traveler.

ternyata saya sudah terpesona pada london sejak 30th lalu!


foto di sampul buku tulis yang mempesona  mata kanak2 saya 30th lalu

Ada banyak hal yang membuat saya terpesona kepada Inggris, khususnya London. Pesona pertama yang menyentuh rasa ingin tahu saya tentang the United Kingdom atau Inggris Raya datang dari Istana Buckingham. Pesona itu datang tiga puluh tahun lalu, saat Pangeran Charles dan Lady Diana menikah pada 1981, ketika saya masih kelas 3 SD. Kisah cinta mereka yang saya baca di majalah Kartini milik ibu saya, membuat saya makin terpesona kepada pasangan calon pewaris takhta Inggris tersebut. Ternyata Diana bukan putri berdarah biru atau bangsawan, ia berasal dari keluarga biasa yang saat berpacaran dengan Charles, Diana masih berprofesi sebagai seorang guru taman kanak-kanak. 

Pada liburan kenaikan kelas, seorang sepupu yang tinggal di Semarang menghadiahi beberapa buku tulis baru dengan sampul bergambar Pangeran Charles dan Lady Diana yang sedang tersenyum bahagia. Saya masih dapat mengingat dengan jelas pose Pangeran Charles dan Lady Di dalam sampul buku tulis itu. Lady Di mengenakan baju berwarna biru muda, tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi, dan kebahagiaan terpancar dari raut mukanya nyaris tanpa make-up yang membuatnya tampak makin anggun. Sementara itu, Pangeran Charles berdiri di belakangnya mengenakan jas hitam, kedua tangannya memegang pundak Lady Di. Charles juga tersenyum, meskipun menurut saya wajahnya nggak ganteng-ganteng amat.

Perkawinan beda kelas itu rupanya membuat Diana justru makin populer di mata dunia. Bahkan, dibandingkan ibu mertuanya, Her Majesty the Queen Elizabeth II yang bertakhta sebagai ratu dan kepala negara. Harus diakui bahwa Diana jauh lebih menarik dan dikagumi dunia. Gadis-gadis kecil seusia saya kala itu banyak yang mengidolakannya karena kecantikannya yang jauh dari kesan glamor. Bahkan, sepupu saya yang menghadiahi buku tulis bersampul Charles–Diana sampai bela-belain mengikuti potongan rambut bergaya Diana! 

Jadi, jangan heran pula jika anggota DPR RI ketahuan mampir ziarah ke makam Lady Di dalam kunjungan dinas ke Inggris pada September 2010 lalu. Diana telah menjadi ikon Inggris. Ia sama populernya dengan London Big Ben ataupun Tower Bridge.

Tuesday, March 15, 2011

3N4D trip

@duta mall, banjarmasin
Berapa lama waktu ideal buat plesiran bersama si kecil? Buat Baby Bindi, sepertinya 4 hari (termasuk perjalanan) sementara ini sudah cukup. Kalau lebih dari itu, katakanlah seminggu, kayaknya kok masih kasihan ya. Kasihan karena dalam waktu seminggu itu ia harus makan ala kadarnya karena saya nggak sempet bikinin nasi tim dengan menu yang bergizi bebas gula dan garam. Selain itu, kasihan juga emak dan bapaknya dong, karena harus kelamaan ninggalin gaweyan di kantor.

Sebaliknya, jika waktu plesiran terlalu singkat, kasihan si kecil juga karena nggak ada jeda untuk beristirahat. Hari ini nyampe daerah tujuan, besok pagi seharian jalan, dan lusa sudah harus pulang. Kalau perjalanan jarak dekat sih nggak masalah, lha kalau perjalanan lintas pulau/propinsi atau ke negara tetangga kan nggak seru tuh.

Sekedar gambaran, berikut agenda 3N4D trip-nya Baby Bindi yang biasa kami lakukan:

  1. Day 1 : Arrival. Jika tiba pada siang hari, kami akan beristirahat di hotel hingga sore. Setelah itu sorenya, sekalian nyuapin, jalan-jalan ke mall untuk berbelanja berbagai keperluan si kecil untuk beberapa hari ke depan seperti biskuit, buah, diapers, dll
  2. Day 2 : Pagi hari setelah sarapan, jalan-jalan ke destinasi wisata tujuan. Biasanya hingga siang hari, kembali ke hotel, bobok-bobok siang, bangun tidur kuterus mandi sore, lalu dilanjut jalan sore menikmati suasana. Kadang kami balik ke mall lagi, nyari sejenis Timezone, buat menghibur Baby Bindi.
  3. Day 3 : idem, mirip kegiatan hari ke-2 dengan destinasi yang berbeda. Malam harinya mulai packing supaya esoknya nggak kerepotan.
  4. Day 4 : Jika perjalanan pulang dilakukan pada siang atau sore, pagi hari masih bisa digunakan untuk packing dan jalan-jalan di sekitaran. Tapi kalo pulangnya dapat flight pagi, ya apa boleh buat.
Selama di daerah tujuan, kami tidak ingin terikat waktu. Kalau enjoy ya dilanjut, kalau Bindi udah kelihatan kecapean, ya mari kita kembali ke hotel. Main-main di hotel juga bagian dari rekreasi kok. Apalagi kalo hotelnya punya fasilitas kolam renang. Bindi kegirangan banget bisa bermain air. Karena itu, memilih hotel yang nyaman, luas, dengan harga terjangkau juga sama pentingnya dengan memilih destinasi wisata yang baby friendly.