Friday, December 10, 2010

experience boat cruise


Salah satu tujuan saya mengajak Baby bindi traveling adalah untuk mengenalkan dengan berbagai alat transportasi. Saat jalan-jalan ke Makassar, kami mengajak Baby bindi naik perahu. Nggak jauh-jauh kok, cuma dari dermaga Pantai Losari ke Pulau kahyangan yang ditempuh sekitar 15 menit sekali jalan. Penginnya sih sekalian ke Samalona, biar bisa main air, tapi karena Samalona relatif lebih jauh (30-45 menit), sementara ini adalah pengalamana bindi berperahu, maka saya memilih untuk mengurungkan hasrat. Gak apa yang deket dulu, nanti kalau bindi sudah ketahuan enjoy, bolehlah dicoba lagi berperahu yang lebih jauh.

Ternyata Bindi enjoy banget di atas perahu. Dia takjub melihat hamparan air yang begitu luasnya. Juga kegirangan melihat percikan air laut di sisi kanan kiri perahu. Tangannya menunjuk ke segala arah sambil berkata-kata yang kemudian saya terjemahkan sendiri, "ooww..itu ada kapal besar" atau "ada ikannya nggak ya" atau "lautnya luas ya, bu..."

Sampai di Pulau Kahyangan, Baby Bindi cuma main-main pasir sebentar. Sebenarnya sih dia masih betah berlama-lama, tapi saya yang nggak betah. Pagi itu, saat kami berperahu ke Pulau Kahyangan, sebenarnya tidak dengan persiapan. Iseng-iseng aja nyuapin sarapan pagi Bindi di tepi pantai Losari, lalu pas mau balik ke hotel kami nyari warung coto. Lagi bengong di pinggir jalan yang tak jauh dari dermaga, eh ditawarin tukang perahu. "Gimana, sekalian aja yuk?" tanya saya pada Edo yang langsung disetujui. Jadilah kami yang belum mandi ini berperahu ke pulau Kahyangan.

Oh ya Pulau Kahyangan adalah salah satu pulau kecil yang sering dijadikan tempat untuk menggelar berbagai event. Di pulau kecil ini dibangun sejumlah cottage dan bungalow yang pintunya langsung menghadap ke laut. Juga terdaapt play ground dan panggung hiburan. Katanya, pulau ini jadi tempat yang asyik untuk menikmati lampu-lampu kota Makassar di malah hari.

Setelah berjalan-jalan mengelilingi pulau yang pagi itu tampak sepi (apakah penghuninya masih pada tidur di cottage ya?), akhirnya kami kembali ke perahu. Di atas perahu yang membawa kami kembali, Baby Bindi tertidur, diterpa semilir angin pagi yang sejuk dan bikin mengantuk.

Monday, November 29, 2010

belajar multikultur sejak dini


buat saya, traveling itu bukan sekedar dolan tapi yang lebih penting adalah experience different culture. pada saat kita melakukan perjalanan, tinggal di suatu daerah yang memiliki kultur yang berbeda dengan kita, pasti mau tak mau harus beradaptasi dengan kultur lokal. meski cuma untuk beberapa hari saja.

saya dan baby bindi beruntung bisa tinggal di jogja, di kota yang multikultur. mau ketemu orang dari beragam etnis yang ada di indonesia, bisa dilakukan di jogja karena banyak putra daerah yang melanjutkan studi di kota pelajar jogja. selain itu, di jogja juga terdapat asrama-asrama mahasiswa dari semua propinsi. jadi bisa dibilang jogja adalah miniatur indonesia.

untungnya lagi, saya tinggal di dekat kraton, dekat tamansari di mana banyak turis-turis asing lewat depan rumah. ada turis rombongan pake bus-bus besar, ada pula turis bergaya backpacker yang menggendong ransel dan menenteng buku lonely planet.

sore-sore, saat lagi di luar rumah sama baby bindi, kadang ketemu turis-turis itu lewat. beberapa menyapa dan say hello sama baby bindi. saya lantas mengajari baby bindi untuk membalas sapaan mereka. buat saya, ini adalah salah satu pelajaran multikultur yang bagus dikenalkan pada si kecil. dengan sering bertemu orang dari beragam etnis, niscaya kelak ia akan menjadi anak yang nggak etnosentris dan mendukung keberagaman. amiinn...!

oh ya, selain di jogja, tempat belajar mengenalkan multikultur pada anak adalah di bali, terutama ubud. hingga umur setahun saya sudah dua kali mengajak baby bindi berlibur ke bali. kami tinggal di bungalow murah dan nyaman, di mana hampir semua yang menginap adalah bule-bule. biasanya mereka juga mengajak keluarga dan anak yang masih kecil. nah, baby bindi bisa main-main sama mereka.

foto di atas adalah salah satu dari aktivitas baby bindi saat berlibur di ubud. kolam renang yg tersedia di depan bungalow kami, ternyata jadi salah satu tempat untuk berkenalan dengan kultur lain. begitu nyebur di kolam, bindi dan anak bule perancis itu langsung akrab meski tidak saling berkata-kata.

lihatlah bahasa tubuh mereka. biar kulit dan rambut berbeda warna, tapi mereka bahagia bisa saling mendekat.

Monday, November 15, 2010

how to travel book & travelogue book...


Saya mulai diserang pertanyaan, "Kapan UKTRIP-nya terbit?" dari para pembaca. Sementara dari penerbit, "jangan lama-lama ya!". Padahal, disain kaver buku ini sudah di-approved bulan Oktober lalu. Juga sudah saya pajang di sidebar blog saya dengan penuh rasa percaya diri.

Saya memang bukan orang yang taat deadline. Dalam menulis, sekalipun saat ini saya punya waktu yang lumayan longgar, saya tergolong penulis moody alias mengandalkan mood. Celakanya, kadang-kadang saya lebih bergairah ngurusin hal-hal yang berhubung dengan visual ketimbang teks. Itu sebabnya, disain kaver udah beres duluan sedangkan naskahnya masih sebagian.

Alasan yang kedua, saya lagi bergairah dengan respon para pembaca EUROTRIP. Respon mereka membuat saya bahagia dan makin semangat untuk lebih sering berkoar tentang kisah perjalanan saya ke Eropa. Dan yang tak terduga, ternyata banyak pembaca yang kemudian mencari buku pertama saya TALES from the ROAD. Sungguh-sungguh mengharukan. Buku pertama saya yang sudah sulit ditemukan di toko buku (karena dianggap sebagai buku yang gak laku) itu, kembali dicari-cari.

Belum tuntas rasa haru saya, tiba-tiba saya mendapat informasi bahwa TALES from the ROAD masuk nominasi dalam Festival Pembaca Indonesia 2010. Gubrak..! Seisi meja saya langsung terpental ke mana-mana begitu saya mendapati judul TALES from the ROAD masuk dalam nominasi sebagai karya Non Fiksi Favorit 2010 dan juga nominasi Disain Sampul Non fiksi Favorit. Rasanya nyaris nggak percaya. Bagaimana mungkin buku yang nggak laku, nggak banyak dibaca orang, bisa masuk dalam nominasi.

Jadilah sejak pengumuman itu saya pun gencar woro-woro tentang TALES from the ROAD lagi. Ah, bahkan kali ini lebih gencar ketimbang saat buku ini terbit Juni 2009 lalu. Sebenarnya woro-woro itu -jujur nih- bukan untuk memenangkan polling, karena saya kok pesimis bakal menang ya. Ada karya yang lebih pouler dan banyak diminati pembaca Indonesia kok. Tapi lebih pada membangkitkan rasa percaya diri, bahwa ternyata karya saya ada yang menghargai. Juga membuat saya pengin nulis TALES lagi dengan lebih 'mendalam'. TALES adalah cara saya melihat dunia, melihat apapun yang tertangkap oleh mata selagi saya jalan. TALES adalah tulisan yang keluar dari jiwa saya.

Jadiiiiii....lagi-lagi UKTRIP terhalang oleh hasrat yang begitu kuat untuk menulis kisah-kisah perjalanan sebagaimana saya mengungkapkannya lewat TALES from the ROAD. Padahal, buku traveling seri Trip (Matatita Trip Series) ini jelas-jelas punya gaya (style) penulisan yang berbeda dengan TALES. Trip Series lebih berasa informatif, panduan perjalanan, dan masuk kategori how to book. Sementara TALES merupakan travelogue, kisah perjalanan yang nggak sekedar "I've been here" tapi lebih pada "travel for what" (and for me, travel is experience different culture).

Nah lo..!

Mungkin memang salah saya juga kali ya, kenapa mengeluarkan buku traveling dengan dua style penulisan yang berbeda. Kedua segmen pembaca pun jadi menuntut untuk minta lagi dalam waktu bersamaan.! Oh...!!!

Friday, November 12, 2010

travel organizer andalan saya


Barangkali inilah satu-satunya piranti jalan milik saya yang lebih sering disembunyikan, meskipun sebenarnya cukup keren untuk dipamerkan. Dialah Victorinox Travel Organizer yang bertugas menyimpan segala rupa dokumen perjalanan. Barang berharga saya ini lebih sering ngumpet di dalam ransel, itu pun di tempat yang tersembunyi di bagian dalam ransel. Dia baru nongol keluar dari ransel saat saya membutuhkan dokumen tertentu, misalnya tiket pesawat untk check in di bandara. Kadang-kadang, biar kelihatan gaya, saya sengaja menenteng travel organizer itu hingga masuk ke pesawat.

Kasihan kan, masak dia ngumpet terus di dalam ransel. Padahal dia punya tugas mulia, menyelamatkan dokumen perjalanan, kartu kredit, passport, juga beberapa lembar dollar. Padahal lagi, travel organizer ini saya beli dengan penuh perjuangan. Saya musti menahan diri cukup lama, sejak pertama kali melihatnya di sebuah toko tas di bandara Changi Singapura, hingga akhirnya berhasil membelinya ketika kembali ke Singapura lagi.

Sebelumnya saya menggunakan travel wallet dari Adidas. Ukurannya lebih kecil sehingga bentuknya menggembung jika kebanyakan isi. Padahal, saya juga suka menyelipkan segala macam tiket dan karcis maupun nota-nota yang saya beli selama di perjalanan. Pokoknya, segala rupa kertas yang terkait sama perjalanan saya, pasti tersumpal di travel organizer ini. Begitu kembali ke tanah air (kalo travelingnya ke luar negeri, atau kembali ke rumah kalo traveling di tanah air) saya tak langsung mengeluarkan isinya. Sengaja saya membiarkan semua kertas-kertas itu ada di dalam travel organizer ini hingga dia saya ajak jalan-jalan lagi. Hehe...!!!



Tuesday, November 9, 2010

traveler aji mumpung


Setelah menerbitkan dua buku traveling, dan tengah menulis buku traveling lainnya, saya semakin merasa bahwa sebenarnya saya bukanlah seorang traveler. Bukan pula seorang backpacker atau flashpacker atau apalah istilahnya. Apalagi jika menilik travel-time saya yang ternyata nggak sehebat temen-temen backpacker lain yang saya kenal meskipun mereka belum menerbitkan buku.

Saya hanyalah pejalan aji mumpung. Mumpung dapat tugas ke Paris, ya wis sekalian jalan-jalan ke beberapa negara lain di Eropa. Mumpung tiket Air Asia lagi promo nol rupiah, ya wis di-booking aja buat jalan-jalan ke negara tetangga. Mumpung dapat proyek ngerjain media, ya wis sembari memburu nara sumber sekalian traveling ke penjuru tanah air.

Nah, ketika keberuntungan itu lagi menjauh, saya lebih suka menghabiskan waktu di Jogja saja. Aha..ini juga sebuah keberuntungan ya, bisa lahir dan tinggal di Jogja. Di kota wisata nomor dua di Indonesia setelah bali. Itu berarti setiap hari saya bisa traveling dong. Apalagi saya tinggal di deket Kraton, Tamansari, Alun-alun, gudeg Wijilan..wis lengkap sudah! Orang lain harus menyisihkan waktu dan uang untuk bisa menikmati Jogja, tapi setiap hari saya malah melewati rute wisata itu.

Memang sih, kadang-kadang saya juga off dari gaweyan untuk sekedar leyeh-leyeh di Ubud. Ubud lagi, Ubud lagi. Habis gimana ya, Ubud is my mood sih. Ubud itu mencerahkan jiwa dan bathin saya. Segala yang nyebelin tiba-tiba bisa langsung amblas begitu saya mencium aroma bunga kamboja yang terselip di telinga patung-patung Bali. Itu yang bikin saya sering nggak punya alternatif lain yang bisa dijadikan pilihan tempat buat berlibur. Itu pula yang kemudian membuat saya akhirnya sadar, bahwa ternyata banyak tempat-tempat wisata di Jawa yang jadi terlewat nggak pernah saya kunjungi. Coba, menurutmu ironis nggak, saya sudah lebih dari 20 kali dolan ke Ubud tapi belum pernah sekalipun ke Pantai Pangandaran!

Jadi, saya memang tidak pantas menyebut diri sebagai traveler, meskipun pengin dan punya akun email lost_traveler@matatita.com. Ternyata saya belum menyinggahi tempat-tempat wisata populer yang nggak begitu jauh dari kota saya.

Saya memang suka dan menikmati setiap perjalanan, tetapi bukan orang yang suka menambah destinasi wisata. Buat saya tempat yang pernah dikunjungi bukan berarti jadi tidak menarik jika dikunjungi lagi. Bahkan saya sering menemukan hal-hal baru pada tiap-tiap kunjungan, meski itu berkali-kali dilakukan.

Jadi, jika kemudian saya bisa menuliskan kisah perjalanan dan diterbitkan, tentu bukan karena saya sudah jalan ke puluhan negara, ratusan kota, dan ratusan desa. Bukan kok. Saya rasa mungkin hanya karena saya bisa menuliskannya dan punya perspektif yang sedikit berbeda dengan traveler lain, sehingga ada penerbit yang menganggap tulisan saya layak dibaca publik. Itu saja.

Jadi, sekali lagi, saya hanyalah traveler aji mumpung. Dan semoga dewi keberuntungan nggak mau jauh-jauh dari saya.

Thursday, November 4, 2010

terima kasih sudah menominasikan travelogue saya


Saya layak bersorak dong, ketika TALES from the ROAD masuk nominasi dalam Festival Pembaca Indonesia 2010. Bagaimana nggak girang coba, buku travelogue saya itu kan masuk kategori buku nggak laku versi penerbit. Apalagi jika dibanding dengan buku-buku traveling lain yang sama-sama diterbitkan oleh penerbit buku saya. Juga ketika dibanding dengan buku EUROTRIP yang baru dua bulan lalu beredar dan menurut bocoran penerbit angka penjualannya lumayan. Rasanya TALES jadi sebuah karya yang nggak ada artinya. Bukunya susah didapat karena gak add stock di toko buku dan nggak pernah dipromoin pula. Huks...!

Tetapi sebagai penulis yang menulis dua buku traveling dengan dua style yang berbeda, yaitu travelogue(TALES) dan buku panduan (EUROTRIP) sejujurnya saya merasa lebih puas saat menulis TALES. Bagi saya TALES itu gue banget.

Karena itu saya pengin mengucapkan banyak terima kasih untuk penyelenggara Festival Pembaca Indonesia yang sudah memilih TALES from the ROAD sebagai nominasi Buku Non Fiksi Favorit. Saya yakin, panitia jujur memilih buku yang bergizi yang layak dinominasikan untuk diberi penghargaan. Saya juga salut jika panitia memilih nominator bukan semata karena popularitas penulis karena oplah penjualan buku yang hingga cetak ulang beberapa kali. Buku TALES baru dicetak sekali dan sepertinya tidak bakal dicetak ulang karena penjualannya tidak memenuhi target.

Mengingat tidak banyak pembeli TALES dan tentu saja itu berarti juga tidak banyak yang membacanya, saya tidak berharap banyak pada hasil polling. Dengan kata lain, tidak berharap menjadi penulis yang mengumpulkan polling terbanyak. Buat saya, sudah dinominasikan saja sudah merupakan penghargaan yang tak terkira.

Oh ya, saya juga bangga, ternyata sampul buku TALES juga dinominasikan dalam kategri Sampul buku Non Fiksi.

Ide cover TALES bermula dari kegemaran saya memotret jejak kaki di atas manhole saat traveling. Kebetulan, ketika ke Nepal ada satu manhole yang keren banget, ditulis dengan huruf Nepal. Bahkan saya pun tak bisa membacanya. Entah itu manhole saluran air ataukan manhole untuk jaringan kabel telekomunikasi. Atas bantuan Putri (Timkreatif Regol) foto narsis jejak kaki itu pun terwujud menjadi desain samul buku yang cantik. Lalu ditambahlah beberapa koleksi foto eksotis dari Papua, Bali, Nepal, dan Jogja. Kenapa foto etnis, bukan pemandangan alam? Ya karena memang itulah yang memikat hati saya untuk menjelajah dunia, to experience difference culture.

Kalaupun ada yang sedikit saya sayangkan dari disain cover TALES ini adalah adanya tambahan pointer dari penerbit berupa tips berburu tiket murah, mencari akomodasi irit, dan mengatasi masalah selama di perjalanan yang dijejalkan di bawah judul. Tapi saya tidak bisa protes dong, bagaimanapun penerbitan buku adalah industri, yang sudah pasti berharap untung. Pointer tadi dimaksudkan untuk menggaet pembaca (traveler) Indonesia yang harus diakui memang masih dalam taraf 'how to travel' bukan 'travel for what'.

Oke, silakan buat yang ingin mem-vote TALES from the ROAD, klik link di sini ya... Biar nggak penasaran, inilah daftarnya:

Kategori Non-fiksi:
1. The Naked Traveler 2, karya Trinity, 2010
2. The O Project, karya Firliana Purwanti, 2010
3. Wirausaha Mandiri, karya Rhenald Kasali, 2010
4. Dilarang Gondrong, karya Aria Wiratma, 2010
5. Membongkar Gurita Cikeas, karya George Junus Aditjondro, 2009
6. Sintong Panjaitan, karya Hendro Subroto, 2009
7. Long Distance Love, karya Imazahra, 2009
8. 30 Hari Jadi Murid Anakku, karya Mel, 2009
9. Tales from The Road, karya Matatita, 2009
10. I Can(not) Hear, karya Feby Indirani, 2009

Sampul Buku Non-Fiksi

1. The Naked Traveler 2
2. The O Project
3. Wirausaha Mandiri
4. Dilarang Gondrong
5. Membongkar Gurita Cikeas
6. Sintong Panjaitan
7. Long Distance Love
8. 30 Hari Jadi Murid Anakku
9. Tales from The Road
10. I Can(not) Hear

Selamat mem-voting dengan jujur.

Monday, October 25, 2010

Saturday, October 16, 2010

a publishing company, my dream..




Mimpi awal tahun 2010 untuk bikin trvel books publishing company kembali mengusik di saat 2010 akan berakhir 2.5 bulan lagi. Mimpi itu pernah saya posting di blog multiply pada bulan Januari 2010. Apakah 2.5 bulan cukup untuk merealisasikannya? "Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu," kata Arai dalam Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

-----
Setelah tahun 2009 lalu dunia kreatif saya nyaris mampet karena sebagian besar energi saya tersedot untuk keluarga, pada bulan pertama di tahun 2010 ini saya pengin mengucuri otak kanan saya dengan mimpi besar merintis bisnis penerbitan.

Syerem banget kedengarannya ya. Sengaja! Saya sengaja membangun mimpi setinggi gedung Burj Dubai, supaya setiap hari saya terpacu mengumpulkan energi untuk mencapainya. Jadi, saya tidak boleh menganggapnya sebagai mimpi yang muluk-muluk. Apalagi mimpi ini sebenarnya sudah cukup lama bercokol di kepala dan kala-kala suka mengusik, membuat saya gelisah pengin segera merealisasikannya.

Sebenarnya juga, saya sudah merealisasikannya. Tahun 2003 saya menerbitkan sebuah buku esai foto tentang kemiskinan di Indonesia. Jumlahnya 4.000 eksemplar yang terdiri dari 2.000 edisi Bahasa Indonesia dan 2.000 eksemplar lainnya dalam Bahasa Inggris. Penerbitan buku itu merupakan hasil kerjasama dengan sebuah NGO di Jakarta. Dana penerbitannya 100% disuntik dari NGO tersebut. Sayangnya buku tersebut tidak dijual bebas, karena untuk kepentingan program kerja NGO tersebut. Namun demikian, buku itu diterbitkan dengan ISBN atas nama perusahaan saya loh!

Itulah untuk pertama kalinya saya berurusan dengan Perpusnas di Salemba untuk mengurus ISBN.

Proyek pancingan pertama itu memang belum berhasil menggaet ikan berikutnya. Meskipun sebenarnya ada beberapa proyek yang nggak jauh dengan writing & publishing yang saya kerjakan. Bukan buku, tapi newsletter dan corporate magazine.

Masih di tahun yang sama, saya memulai pengerjaan newsletter (yang kemudian dikembangkan menjadi majalah) sebuah perusahaan telekomunikasi. Kontrak ini berlangsung dari tahun 2003 - 2007. Pekerjaan yang saya lakukan mulai dari reportase, nulis, lay out, dan cetak. Meskipun per edisi cuma cetak 2.000 eksemplar dan terbit dua bulanan, tapi saya puas mengerjakannya. Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari proyek tersebut. Yang paling mengesan adalah pelajaran tentang satelit dan teknologi telekomunikasi lain yang sebelumnya nggak pernah saya pahami. Bahkan, teknologi BlackBerry yang sekarang lagi booming di Indonesia, sudah saya odal-adul teknologinya ketika BlackBerry pertama kali masuk ke Indonesia tahun 2004.

Selain mengerjakan corporate magazine tersebut, saya juga mendapatkan kontrak bulanan untuk mengerjakan newsletter dari salah satu provider seluler di Indonesia. Dalam kontrak dari tahun 2004 - 2008 ada 4 jenis newsletter yang saya kerjakan tiap bulan. 3 diantaranya punya deadline yang berbarengan, dalam minggu yang sama, yaitu antara tanggal 20 - 25 setiap bulan. Kebayang kan betapa tiap tanggal itu kepala saya jadi kemut-kemut buat nulis dan mensupervisi lay out. Begitu terlepas deadline, seminggu beristirahat, dan minggu berikutnya sudah harus melanglang buana mencari data dan reportase. Proyek ini lah yang membuat saya bisa berkeliling Indonesia.

Sayangnya, persaingan tarif murah di industri telekomunikasi seluler Indonesia membuat perusahaan tersebut memangkas biaya promosi, antara lain proyek newsletter yang diperuntukkan buat pelanggannya itu terpaksa tidak diterbitkan lagi. Praktis di tahun 2009 saya kehilangan job jalan-jalan backpackeran keliling Indonesia itu. Sedih juga, tapi ada untungnya juga. Karena ternyata, di tahun 2009 Gusti Allah sudah punya agenda merumahkan saya.

Setelah hampir setahun di rumah ngurus keluarga, saya mendapat kesempatan business trip lagi. Dua minggu setelah kehadiran Baby Bindi, saya mendapat undangan mengikuti pitching (tender) dari klien lama di Jakarta. Ada 3 proyek yang di-pitching-kan, yaitu corporate newsletter, video presentasi, dan booklet sales kit. Saya udah berharap banget bisa kembali mendapatkan proyek newsletter yang vacum selama setahun. Membayangkan bakal traveling dan reportase lagi tiap dua bulan (karena bakal terbit dua bulanan) membuat akhir tahun 2009 serasa menyuntikkan gairah dalam hidup saya.

Tapi saingan pitching kali ini cukup berat. Salah satunya adalah perusahaan jasa media yang sudah menerbitkan sejumlah media komersil yang dibagikan gratis di mall - mall di Jakarta. Dan ternyata, memang dialah yang jadi pemenang. Meski sedikit gelo karena nggak bisa lagi bekerja ala jurnalis, tapi saya rela kok karena pemenangnya adalah perusahaan yang memang mumpuni di bidangnya. Toh, saya juga masih kebagian memenangkan proyek lainnya, yaitu bikin booklet sales kit setebal 56 hal ukuran folio yang dicetak full color sebanyak 13.000 eksemplar. Lumayan kan?

Karena pekerjaan itu tidak memanfaatkan writing skill saya, rasanya kok ya kurang puas ya. Saya selalu merindu pekerjaan yang memaksa saya harus menulis, meskipun nilai proyeknya nggak segeda kerja kreatif lain.

Karenanya saya pengin membulatkan hasrat untuk merintis bisnis penerbitan di tahun ini. Prioritasnya penerbitan media dulu yang memang menjadi passion saya sejak remaja. Setidaknya saya bisa menghidupkan REGOLmagz lagi. Atau apes-apesnya ya nerbitin buku lah. Buku orang lain atau buku saya sendiri juga nggak masalah. (Eh, saya masih punya stok travel writing yang bisa diterbitkan jadi buku loh).

Saya sadar masih ada beberapa kendala yang butuh usaha keras untuk mengatasinya, terutama modal (baca: duit gede). Pasti dong, kalo mau nerbitin media dibutuhkan modal yang lumayan untuk biaya cetak. Saat ini saya lagi golek-golek utangan nih. (Ada yang berminat menjadi investor?)

Wednesday, October 13, 2010

my birthday wish: EUROTRIP dan trip-trip lainnya


Jujur nih, selagi merampungkan naskah EUROTRIP sepanjang Mei - Juni 2010, pikiran saya bercabang-cabang mengenang trip-trip lainnya. Pengin banget bisa menerbitkan trip-trip lain itu. Saat saya buka-buka foto dan jurnal di blog yang membuat ingatan saya makin mengembara, saya makin bersemangat. Mulailah saya berkhayal-khayal tentang Matatita Trip Series yaitu buku traveling yang saya tulis. Kalo diseriusin alias saya serius mengerjakannya, dijamin bisa jadi beberapa buku.

Tapi saya tengah dihantui deadline untuk segera merampungkan EUROTRIP. Begitu EUROTRIP kelar dan rampung cetak, saya pun bertanya ke Editor, apakah sudah ada yang mengajukan naskah traveling ke Inggris. Rupanya, nasib baik berpihak pada saya: belum ada. Saya pun kegirangan (meskipun disembunyiin dalam hati). "Oke, kalau gitu saya pengin nulis UKTRIP...!" jawab saya.

Kesepakatan itupun langsung diworo-woro. Nggak cuma di blog dan FB...sewaktu on air di radio pun udah mulai berkoar jika saya sedang menulis naskah UKTRIP. As always...kaver buku udah dikerjain duluan dan diajukan ke penerbit. Juga sudah dipilih alais sudah di-acc. Hhmm..jadi makin semangat ngrampungin tulisan lagi nih (kemarin sempet terhenti karena sibuk jualan EUROTRIP..hehehe).

Setelah UKTRIP...saya pengin nulis NEPALTRIP. Pihak penerbit 3 bukuku sebelumnya sepertinya sudah punya naskah tentang Nepal, jadi kemungkinan NEPALTRIP akan diterbitkan sendiri oleh Matatita & Co. (weiittzzz...dari travel writer menjadi travel publisher? Boleh dong, memimpikan The Wheeler and Lonely Planet..)

Selain itu juga ada beberapa naskah traveling dalam negeri yang harus saya kejartayangin yaitu PAPUATRIP, BORNEOTRIP, CELEBESTRIP, dan MOLUCCASTRIP...! Sebenarnya naskah tersebut merupakan proyek Matatita & Co untuk menerbitkannya. Tapi sepertinya pihak penerbit juga tertarik meskipun belum ada kesepakatan tertulis. Buat saya, siapapun yang akan nerbitin, yang penting target menyelesaikan sejumlah buku traveling dalam negeri bisa kelar setahun ini. Biar nggak dituduh western-minded, wong saya sudah blusukan ke penjuru Tanah Air kok...I love Indonesia gitu loh!

Friday, October 8, 2010

baby food on the go


Penginnya sih bisa bikinin fresh food sepanjang hari sepanjang masa buat Baby bindi. Tapi kalau lagi traveling dan nginep di hotel, mana sempat? Kalo disempet-sempetin emang sempet sih, tapi pasti ribet banget karena harus bawa alat masak dari rumah. Enggak mau lah. Mending travelingnya ditunda aja sampe si baby sudah tumbuh menjadi kid. Hehe...!

Menanamkan semangat petualang pada si kecil memang nggak semata-mata belajar ngajakin si kecil sering ke luar kota kok. Yang lebih penting justru mengubah mindset kita sebagai orang tuanya, bahwa traveling atau backpacking itu mau nggak mau memaksa kita berkompromi dengan berbagai keterbatasan. Kompromi ini berlaku pukul rata, biar bocah masih berumur bulanan juga musti bisa kompromi dengan keterbatasan. Nah, kalau kita belum siap mental, sebaiknya menunda agenda traveling luar kota dulu lah. Daripada nanti jadi stress diserbu berbagai pertanyaan dari kerabat dan teman-teman, "gila, jadi tiap hari anakmu cuma dikasih makanan instan dan air minum botolan?"

Buat saya, pertanyaan itu mirip dengan yang biasa dilontarkan kalau saya traveling sendirian, "kamu kan perempuan, kok traveling sendirian ke luar negri?"

Jadi, saya sudah lumayan kebal dengan komentar-komentar sejenis itu. Komentar yang nggak perlu ditanggapi, tetapi butuh dimaklumi. Maklum, masyarakat agraris memang belum menempatkan traveling sebagai kebutuhan. Berbeda dengan masyarakat industri di mana waktu luang dan rekreasi itu sesuatu yang harus diperjuangkan.

Makanan instan itu tidak buruk kok. Buktinya Baby Bindi tidak terganggu pencernaannya saat mengkonsumsi makanan instant selagi traveling. Makanan instan yang saya pilih adalah yang siap santap, yaitu makanan dalam botol kecil.

Ada beberapa merk makanan siap santap yang sehat dan aman yang biasa saya beli, antara lain Heinz, Babynat, dan Gerber. Seringnya sih Bindi makan Heinz. Rasanya nikmat dan manis, emaknya juga suka. Biasanya saya pilih Heinz yang buah-buahan. Sedangkan yang sayuran organik, saya pilih produk Babynat. Tekturnya sedikit kasar, tidak berasa manis dan asin. Nggak enak banget buat lidah orang dewasa, tapi malah cocok buat Baby Bindi. Sedangkan untuk rasa ayam dan daging, biasanya saya menggunakan produk Gerber.

Oh iya, selain makanan solid utama, saya juga sedia snack buat Bindi. Snack favoritnya adalah Gerber Graduates Puff dan Baby Choice.

Produk-produk makanan import itu tersedia di supermarket di kota besar. Jadi, waktu liburan ke Bali, saya nggak erlu bawa stok banyak-banyak dari Jogja. Cukup bawa 2 botol untuk jaga-jaga di perjalanan (eh, malahan di pesawat Baby bindi dapet paket baby food dari Garuda berupa 2 botol Heinz. Horeee...!!!) Begitu tiba di Bali, agenda pertama adalah belanja baby food dulu di supermarket.

Baby food botolan ini super praktis, langsung disuapin dari botolnya aja. Jadi, hemat energi, nggak perlu nyuci mangkuk segala. Hehe....!

yuks, ke candi....


Waktu saya masih balita (sekitar tahun 76-77), hampir setiap hari Minggu Bapak mengajak saya ke Candi Prambanan. Dari rumah kami di tengah kota Jogja, kami bermotor Honda Bebek seri 70. Sebelum sampai Prambanan, biasanya kami singgah di galeri Sapto Hudoyo. Saya masih ingat, tangan-tangan mungil saya suka banget megang-megang patung bergaya asmat yang tinggi menjulang di halaman galeri. Kadang-kadang Bapak mengangkat tubuh saya agar bisa meraih bagian patung yang lebih atas.

Setelah dewasa, saya sering mengaitkan pengalaman masa kanak-kanak berwisata di galeri seni dan situs arkeologis dengan ketertarikan saya pada bidang sejarah, antropologi, seni, dan arsitektur. Meskipun tidak sepenuhnya benar, tapi sedikit banyak saya yakin ada kontribusinya. Apalagi, waktu bocah porsi jalan-jalan saya sebagian besar memang ke tempat-tempat seperti itu. Ke kraton dan sekitarnya sudah pasti tiap hari karena dekat tempat tinggal kami. Lalu ke candi-candi di sekitar Jogja, ke semua museum yang ada di Jogja, juga main ke galeri seni yang kebetulan juga banyak di Jogja. Selain itu juga masih ditambah dengan kegiatan nonton berbagai seni pertunjukan, dari mulai wayang kulit hingga wayang wong.


Sekarang, kebiasaan itu saya tularkan pada Baby Bindi. Kebetulan Edo juga juga punya ketertarikan yang sama dan setuju bahwa wisata heritage juga layak dikenalkan pada anak-anak sedini mungkin. Jadilah setiap hari, pada pagi hari, selagi saya sibuk di dapur menyiapkan menu sarapan, Edo mengajak Bindi jalan-jalan ke Pulo Cemeti (Tamansari) atau Kemagangan (Kraton bagian belakang). Kadang-kadang saya juga ikutan sambil membawa semangkuk bubur buat sarapan Bindi. Seru juga loh, nyuapin Bindi di kawasan heritage.

Saat weekend, Sabtu atau Minggu, barulah kami wisata heritage yang agak jauh. Ke Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, atau situs-situs lain.


Pilih W
aktu: Pagi atau Sore
Sudah pasti kalo wisata candi bersama si kecil kudu milih waktu yang tepat, saat matahari tidak sedang tinggi-tingginya. Mungkin banyak yang nggak tahu bahwa loket karcis wisata candi biasanya buka pada pagi hari pukul 06.00 dan tutup pada pukul 17.00. Jadi kita bisa datang pagi-pagi saat matahari masih memancarkan sinar yang kaya vitamin D, atau saat senja menjelang. Loket ditutup pukul 17.00, tapi kita masih bisa jalan-jalan di dalam kompleks candi hingga pukul 18.00. Cukup teduh kan?

Baby Carrier
Biar si kecil nyaman selama diajak muter-muter kompleks candi, biasanya saya menggunakan baby carrier berupa ransel gendongan bayi. Ransel ini cukup nyaman buat Bindi, malah kalau kecapean dia bisa loh tertidur. Buat Emak dan Bapaknya yang nggendong juga nyaman, terasa lebih enteng, kayak nggendong ransel kalo lagi backpacking. Selain itu, ransel ini juga bisa berfungsi sebagai kursi. Kalo capek, saat kami beristirahat, ransel diturunkan dan diletakkan di atas permukaan datar. Si Bindi nggak perlu dikeluarkan dari ransel, karena dia udah serasa duduk aja di sana.

Kalau nggak punya ransel gendongan, saya sarankan pake gendongan bayi yang memungkinkan si kecil digendong menghadap ke depan. Biar si kecil bisa ikutan liat-liat kemegahan warisan nenek moyang kan?

Stroller? Hhmm..kayaknya malah merepotkan, mengingat bakal banyak undak-undakan dan jalan nggak rata.

Bekal Makanan
Paling asyik saat istirahat sambil buka bekal makanan. Kami biasa mengaso di tempat terbuka, di bawah pohon rindang. Sangat disarankan bawa tikar kecil atau alas duduk, biar si kecil bisa lebih leluasa beristirahat. Bisa guling-guling atau merangkak. Hehe...! Kalaupun kelupaan bawa alas duduk (seperti kebiasaan kami yang pelupa ini), bisa juga duduk di bongkahan batu candi yang permukaannya rata. Biasanya di tempat tertentu ada bertumpuk bongkahan batu candi sisa pemugaran yang belum ditata lagi. Asyik juga kok mengaso di sana.

Topi & Payung
Namanya juga jalan-jlaan di ruang terbuka, outdoor, ya jangan pake baju kecentilan dulu ah. Sebaliknya pake baju yang casual, mudah menyerap keringat. Biar nggak kepasan, jangan ketinggalan topi dan payung ya.

image (urut dari atas):
1 & 2 : kebangetan kalo nggak tahu..itu Candi Prambanan
3 : di Pulo Cemeti, Tamansari Water Castle
4 : Berlatar gapura Candi Ratu Boko...keren kan?

Thursday, October 7, 2010

why we travel


Percaya nggak percaya, waktu saya pamitan mau ngajakin Baby Bindi jalan-jalan ke Bali, mbok Nem nangis loh. Katanya, nggak tega ngebayangin Bindi diajak pergi naik pesawat trus di Bali cuma jalan dari satu tempat ke tempat lain. Nggak kebayang kayak apa nanti capeknya Bindi. Pasti nanti sepanjang jalan cuma rewel.

Saya nyengir dan tidak memberi komentar apapun. Saya memaklumi jika mbok Nem, yang orang kampung itu, tidak mengenal konsep "travel will teach us how to struggle in life". Bagi dia, traveling itu cuma buang uang dan bikin capek. Nggak ada untung-untungnya sama sekali. Harap maklum, itulah konsep traveling yang dipahami oleh masyarakat agraris seperti mbok Nem yang juga belum prnah naik pesawat.

Padahal, buat saya, ngajakin traveling Baby Bindi sejak dini memberikan banyak experience yang tak ternilai harganya. Nggak cuma buat bocahnya, tetapi juga buat kami berdua sebagai orang tuanya.

Oke, mari kita urai satu per satu kira-kira benefit apa yang bakal kita dapat dengan mengajak plesiran si kecil.

For Baby:
  • Belajar mengenal lingkungan baru yang lebih luas. Itu pasti dong. Saya masih ingat ekspresi kagetnya Bindi ketika malam itu di kamar hotel di Legian Bali saat dia terjaga minta mimik. Matanya langsung melihat sekeliling, mungkin merasa asing tidur di tempat yang nggak biasanya. Juga ketika dua hari kemudian kami pindah hotel di Ubud, dia lihat sekeliling kamar. Kok beda lagi ya, mungkin begitu pikirnya. Tapi karena ada Emak dan Bapaknya, Bindi pun tenang, nggak protes meski keheranan dengan suasana baru yang dilihatnya.
  • Bertemu dengan wajah-wajah baru (multietnik). Saya sengaja mengajak Bindi ke Bali, supaya banyak ketemu bule. Sebenarnya di Jogja juga sesekali liat bule lewat depan rumah, tapi kan nggak sebanyak di Bali. Nah, di Bali kesempatan untuk berada di antara bule -bahkan menjadi satu-satunya turis lokal- sangat mungkin. Di hotel tempat kami menginap di Ubud, malah cuma kami yang turis domestik. Serunya lagi, Bindi nggak takut liat badan-badang bongsor para bule. Malah bisa senyum-senyum juga ketika mereka say hello. Dengan mengenalkan ras dan etnik lain yang dilihat Bindi, saya berharap dia bisa bertumbuh menjadi manusia yang menghargai keberagaman.
  • Mencoba berbagai alat transportasi. Target utama saya saat liburan ke Bali adalah ngajarin Bindi naik pesawat. Penasaran aja, apakah Bindi bakal enjoy selama penerbangan atau malah nangis histeris seperti yang sering saya lihat di pesawat. Banyak loh, anak-anak kecil yang jadi rewel begitu masuk ke badan pesawat, terutama sebelum take off. Mungkin karena tekanan udaranya rendah, terus biasanya juga gerah karena AC-nya belum jalan. Alhamdulillah...bindi malah hore-hore tuh di pesawat, sampe dituduh pramugari udah biasa terbang.
  • Menguji stamina dan daya tahan si kecil. Namanya juga lagi traveling, nggak sempet deh bikin makanan bubur dan sayuran segar seperti di rumah. Selama traveling Bindi cuma makan baby food Heinz dan buah pisang. Susu botolnya pun enggak hangat lagi, karena hanya dicairkan dengan air mineral botolan. Maafkan Emakmu ya, Nduk. Tapi, beginilah hidup. Adakalanya harus survive dengan kondisi apapun. Syukur alhamdulillah, pencernaan bindi tetep sehat. Pup-nya normal, perutnya nggak kembung, dan yang jelas tetap fit selama 4 hari traveling. Bahkan, sampe di Jogja apa yang dikawatirkan mbok Nem tidak terbukti. Bindi tetap hore-hore ceria, nggak lesu kecapekan tuh.

For Parent:
  • Belajar mengelola waktu. Gila deh, sebagian besar waktu saya selama traveling habis untuk ngurusi 'ritual'-nya Bindi. Nyiapin makanan, mandiin, ganti diapers, mimik susu, menidurkan, dll. Akhirnya, destinasi jalan-jalannya pun juga nggak bisa banyak-banyak. Nggak apalah, toh kami udah biasa ke Bali. Kali ini ke Bali kan buat Bindi, bukan buat saya belanja-belanji.
  • Belajar mengelola emosi. So pasti. Ketika diburu ribet ngurusin Bindi, badan capek, bobok gak bisa nyenyak...kalau nggak belajar bersabar pasti acara traveling jadi runyam karena uring-uringan. Nah, kalo udah uring-uringan, kasihan si kecil kan? Jadi, kalo kita bisa menahan emosi selagi traveling dan tetap fun meski ribet, niscaya akan semakin mendewasakan kehidupan rumah tangga kami.
Itu tadi hanya sebagian kecil manfaat plesiran bersama si kecil. Oh ya, tapi yang harus digaris bawahi atau cetak miring dan cetak tebal adalah bahwa plesiran bersama si kecil ini dilakukan secara independent dan tidak membawa serta baby sitter.

stroller on the go


above: bindi's first stroller
below: the new one is smaller


Saya rasa sebagian besar orang tua berpendapat sama, bahwa stroller adalah travel gear pertama yang pengin dimiliki begitu punya baby. Saya pun begitu. Bahkan saya sudah sangat kebelet beli stroller sejak Baby Bindi usianya belum genap 2 bulan. Tapi kalo membeli stroller khusus newborn atau yang biasa disebut kereta bayi, palingan nggak bertahan lama kepake. Begitu Bindi lehernya udah kuat menyangga kepala dan udah mulai suka melihat sekeliling, kereta bayi udah gak cocok lagi.

Karena pengin ngirit, kami lantas membeli stroller yang bisa 'ngunduri gedhe' yaitu stroller yang difungsikan untuk baby yang sudah bisa duduk, tapi sandarannya bisa direbahkan. So far, stroller itu nyaman-nyaman aja buat Bindi. Cuma, setelah Bindi mulai diajak traveling ke luar kota, kok rasanya stroller itu kegedean di bagasi ya. Nggak slim dan kesannya nggak mobile gitu. Apalagi kalo ngeliat bule-bule yang dorong stroller imut buat anak batita (toddler) mereka. Eh, Bindi kan udah nggak newborn lagi, masih infant sih, tapi bentar lagi sudah toddler.

Untungnya, nggak cuma saya yang terganggu oleh hal ini. Edo juga. Itu berarti, jika suatu saat nemu stroller yang imut mungil dan cocok buat toddler, pasti nggak bakal berdebat untuk membelinya.

Kami pun jadi mulai rajin lirik-lirik stroller. Kalo ketemu ibu-ibu di mall yang dorong stroller, dari kejauhan udah kami perhatiin. Waktu di Bali, mata kami jadi nanar kalo liat bule dorong stroller mungil dengan penumpang toddler umur 2 tahunan. Sebenarnya si toddler udah bisa lari-lari, tapi biar jalannya bisa ngimbangin langkah kaki ortunya yang panjang-panjang, mendingan didudukin di stroller mungil aja. Juga ketika saya ke Eropa beberapa waktu lalu, ketemu banyak emak-emak bule yang mendorong stroller di mana-mana, di stasiun, di park, atau lagi nyebrang jalan. Gemes banget melihatnya. Mana strollernya keren-keren pula!

Setelah beberapa bulan menjadi pengamat stroller, akhirnya tanpa sengaja kami nemu stroller imut dan lucu yang harganya murah meriah (hhhmm...hanya 1/4 dari harga stroller pertama yang kami beli). Warnanya ijo tosca dengan rangka besi berwarna putih, bukan warna silver seperti kebanyakan stroller.

Pandangan pertama pada stroller yang kami temukan di Carrefour itu langsung berujung pada transaksi. Apalagi ternyata stroller itu nggak ada stock lainnya, tinggal satu-satunya. Artinya, nggak bakal ada yang nyamain atau kembarannya di Jogja. Setidaknya, itulah harapan kami. Seneng dong kalo punya barang yang nggak ada kembarannya. Berasa ekslusif gitu. Hehe...!

Tapi yang jelas, karena bentuknya slim dan mungil, stroller ini jadi pas banget didudukin bindi. Bandannya jadi nggak tenggelam karena kegedean stroller. Kesannya jadi mobile dan dinamis (halah..!) Selain itu, juga lebih ringkas, sehingga kalo traveling bakal lebih enteng.

"Cocok nih, buat nyusur jalan di Singapore," kata saya sambil melirik Edo. Yang dilirik cukup sadar diri, "kan kamu bilang nunggu kalo Bindi udah bisa jalan...!"

Iya ya..sekarang baru 'rambatan' alias belajar jalan sambil pegangan dinding. Moga-moga pas genap setahun akhir bulan Oktober ini Bindi udah bisa jalan yaaa... Supaya emak dan bapaknya bisa ngajakin terbang lebih jauh lagi...! Amiiin....!!!