Monday, February 21, 2011

kisah dibalik judul

Saya bukan orang yang jago menulis judul. Bahkan, setiap kali mikirin judul, energi saya bisa terkuras habis untuk mencari ide. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk googling, menemukan judul yang kira-kira tepat untuk buku saya. 

Waktu mau nulis buku Eurotrip Safe & Fun ke penerbit, saya juga sekalian mengajukan 2 (dua) pilihan judul, yaitu Lost in Europe dan Eurotrip. Kedua judul itu saya anggap mewakili kisah perjalanan solo alias sendirian keliling Eropa

1. Lost in Europe -> terkesan shocking, bikin penasaran, mungkin dikira emang 15 hari tersesat beneran..padahal dlm dunia backpacking 'get lost' tidak berarti tersesat tapi justru kita menemukan banyak hal menarik dengan 'get lost' itu.

2. Eurotrip - safe & fun -> lebih datar daripada Lost in Europe, tapi mudah ditangkap maknanya oleh pembeli/pembaca.

Biar lebih mantep, kedua alteranatif judul itu langsung diaplikasikan dalam rancang grafis sampul buku. Bukan karena kebetulan saya punya perusahaan dibidang desain grafis, tapi juga untuk memastikan apakah judul tersebut jadi eye-catching ketika di-lay-out. 

usulan judul 1: Lost in Europe [juni 2010]
Usulan judul 2: Eurotrip Safe & Fun [juni 2010]
Revisi disain cover setelah usulan judul dipilih penerbit [agustus 2010]
Dari kedua judul yang saya ajukan ke penerbit, rupanya judul ke dua yaitu Eurotrip Safe & Fun yang dipilih. Ada untungnya juga judul tersebut dipilih, karena akan memberi saya peluang untuk menulis trip-trip yang lain alias bikin Matatita Trip Series.

Sekuel dari buku Eurotrip, UKTRIP Smart & Fun [januari 2011]

Kenapa yang Eurotrip pake Safe & Fun sementara yang UKTRIP pake Smart & Fun? Editor buku saya juga sempet nanyain, bahkan sempat dikira saya salah tulis. Padahal enggak, itu memang sengaja saya bedain antara Safe dan Smart.

Kata "Safe" saya gunakan di Eurotrip karena pada saat itu saya melakukan perjalanan seorang diri. Bener-bener sendirian, gak nyari kenalan di jalan. Saya menikmati perjalanan solo ini dengan fun, pulang-pulang juga tetep aman. Makanya kemudian saya gunakan Safe & Fun.

Sementara itu saat melakukan pejralanan ke UK, saya lebih menekankan "smart" atau kejelian. Perjalanan ke UK saya lakukan dengan dadakan atas ajakan teman. Dengan berbekal kejelian, waktu yang singkat untuk mengurus visa dan segala macam tiket perjalanan maupun akomodasi yang harus di-booking online tidak mendapat kendala. Selain itu, berbekal kejelian pula, saya bisa menikmati London for free walking tour. Smart dong namanya kalo bisa jalan-jalan di negeri yang kurs-nya muhaall tapi kita bisa hemat.

jadi..selanjutnya apakah saya akan menggunakan kata "trip" di belakang negara yang saya kupas? Tunggu yyaaa...cari wangsit dulu..! Hehe...


Wednesday, February 2, 2011

ayo jelajah nusaraya..!

Losari Beach, Makassar

Bertempat tinggal di kota wisata nomor 2 di Indonesia, Yogyakarta, terkadang membuat saya jadi bingung mencari destinasi liburan long weekend, selain ke Ubud Bali. Di saat yang lain pengin long weekend-an di Jogja, saya enaknya ke mana ya? Ke Bandung? Ah, males wisata fashion. Ke Malang? Pengin sih, tapi mendingan nanti aja kalo Baby Bindi udah jadi kid alias udah gedean. Ke Jakarta? Kayaknya kok nggak keren liburan ke Jakarta. Hehehe...!


Liburan ke luar negeri? Bindi memang sudah punya passport dan sudah punya tiket promo Air Asia untuk ke Singapore bulan April 2011 nanti. Selain Singapura, negara tetangga yang baby friendly alias nyaman buat jalan-jalan sama si kecil, kayaknya kok nggak ada. Hong Kong? Oke juga sebenarnya, tapi kejauhan kalo buat long weekend 4D3N. Kuala Lumpur? Itu juga mirip-mirip Jakarta. Paling nanti ke Petronas dan main di mall atau liat aquarium di KLCC. Ke Bangkok? Hhmm... enggak worth buat Bindi deh kayaknya. Negara-negara tetangga lain dari tiga yang saya sebut jauh lebih nggak nyaman kondisinya buat jalan-jalan bawa anah umur 15 bulan.


Setelah saya renung-renungkan, ternyata memang Jogja is the best kok. Weekend-an jelajah candi-candi pasti seru dan nggak ada habisnya. Hobi ini sudah kami lakukan sejak Baby Bindi umur 6 bulan dan sempet terhenti setelah Merapi meletus. Padahal kami belum sempat ke Borobudur. 


Selain 'jajah Jogja milang kori" (jelajahi kota Jogja), target jalan-jalan jauhnya Baby Bindi adalah ke luar pulau Jawa, biar lebih kenal beragam Budaya Nusantara. Ke Bali sudah dua kali. Pengin ke timurnya lagi, ke Lombok suatu saat nanti. Ke Makassar sudah pernah sekali. Kapan-kapan pengin dilanjut ke Pare-Pare nengokin adiknya Edo yang bertugas di sana sekalian wisata budaya ke Toraja. Sebenarnya waktu ke Makassar kemarin sudah merencanakan hal ini, tapi karena butuh waktu liburan minimal seminggu, saya lantas menundanya. Ke Borneo? Pengin sekali ngajakin Baby Bindi ke pedalaman Kaltim, tinggal di rumah panjang (lamin) suku Dayak. Saya kan pernah tinggal di sana selama sebulan jaman jadi mahasiswa Antropologi dulu. Semoga suatu hari angan ini terwujud.


Saya juga pengin ajak Baby Bindi ke belahan Borneo lain, ke Pontianak. Kebetulan ada kerabat yang barusan dipindah tugas ke Pontianak awal Januari 2011 lalu. Tadinya juga, long weekend imlek ini pengin ke sana. Tapi karena ada deadline pekerjaan dan tiketnya jadi melejit karena etnis Tionghoa di Pntianak dan Kalbar pada imlekan. Ya sudah ditahan saja, masih bisa kapan-kapan kok.


Eh ndilalah, kok ya tadi pagi sahabat saya kirim inbox mengabarkan rencana pernikahannya. Sahabat saya itu, asalnya dari Banjarmasin. "Acaranya di Banjar bukan? Kalau di Banjar aku mau dateng sekalian ajak Baby Bindi." Balas saya bersemangat. Semangat yang full power, lha wong barusan nyalain komputer pagi-pagi di kantor, login ke FB, dan menemukan notifikasi di inbox. Sambil berbalas-balasan lewat inbox, saya membuka website Lion Air yang melayani penerbangan direct Jogja - Banjarmasin (dulu ada Mandala). Juga nelpon Edo menyampaikan niatan ini yang langsung di-acc. Nggak sampe 15 menit kemudian, saya kirim konfirmasi e-ticket itu ke sahabat saya sambil mengancam, "awas kalo gak jadi kawinan tanggal itu!" Malah dia yang shock karena nggak nyangka dalam waktu sekejap saya sudah punya tiket bertuliskan nama saya, Edo, dan Baby Bindi. Belum tahu dia, ya begini inilah yang disebut gayung bersambut.


So, Baby Bindi is going to South Borneo at the end of this month.

*

Tuesday, February 1, 2011

touch the animals experience

Pengin ngelus the lion king
Baby Bindi mulai memperlihatkan ketertarikannya pada binatang ketika usianya jalan 10 bulan. Bindi mulai suka nunjuk-nunjuk ke arah anjing tetangga yang sering lewat di depan rumah kami. Nggak cuma nunjuk-nunjuk, tapi juga maksa minta ngikutin ke mana anjing itu berjalan. 

Sebenarnya nggak cuma anjing aja sih yang dia suka. Semua binatang yang ditemuinya di sekitar rumah, selalu membuatnya kegirangan. Apalagi jika binatang itu nggak cuma diam, tapi bergerak. Ayam, kucing, burung, dan cicak adalah binatang-binatang yang dapat dengan mudah ditemuinya di sekitar rumah. Bindi juga udah mulai pinter memainkan jari-jarinya memanggil burung dan ayam.


Lalu, saya dan Edo pun mulai merencanakan trip ke kebun binatang. Ke Gembira Loka, kebun binatang terbesar di Indonesia. Hehe...! Tapi, kami selalu gagal ke Gembira Loka, padahal kan nggak jauh dari rumah. Pernah suatu kali, saat libur lebaran, kami sudah sampe depan Gembira Loka, tetapi begitu melihat parkirannya penuh, rasanya jadi maleesss...! Jangankan libur lebaran, pada akhir pekan saja parkiran Gembira Loka bisa dipastikan penuh. Banyak rombongan sekolah dari daerah lain yang melakukan study-tour. Ternyata susah juga ya mau piknik di kota sendiri.


Akhirnya kami merencanakan trip lain. "Gimana kalo kita ke Bali Bird Park?" usul saya yang langsung disambut dengan girang oleh Edo. Jelas dong, soalnya sebenarnya kami pun sejak lama sudah beberapa kali gagal mau mampir ke Bali Bird Park setiap liburan ke Ubud. Adaa aja yang bikin kami nggak jadi singgah di sana. 


Sekarang mumpung sudah punya Baby Bindi, nggak boleh lagi dibatalkan. Bahkan trip kami ke Bali kali ini, saat usianya Bindi hampir 12 bulan, khusus buat Bindi mengenal binatang. Kami sisihkan waktu seharian hanya buat main-main ke Bali Bird Park, Reptile Park, dan Bali Zoo. Kebetulan pula lokasinya berdekatan, sehingga kami bisa full day di ketiga tempat itu dari pagi hingga sore.

Elus yang ini aja, nduk
Beneran lho, Bindi terlihat begitu menikmati aneka satwa yang ada di sana. Semua binatang penginnya disentuh. Bahkan singa yang lagi mengaum-aum kelaparan aja pengin dipegang. Hehe..tentunya cuma megang di kaca sebagai pembatas. 

Karena Bindi tidak memperlihatkan ketakutan pada binatang, kami jadi nggak ragu-ragu untuk mendekatkan tangannya pada binatang-biantang tertentu yang jinak. Seperti pada iguana, kura-kura, dan burung rangkok. Oh ya, juga saat di Bali Zoo resto ada atraksi binatang-binatang buas yang sudah jinak. Banyak anak-anak bule yang pada berfoto. Baby Bindi nggak mau ketinggalan dong, ikutan foto berkalung ular. Hihiii...!


Oh ya, beberapa waktu lalu, kami akhirnya berhasil dolan ke Gembira Loka. Saya baru sadar, di gapura bagian depan ada baliho besar bertuliskan Gembira Loka Zoo. Hahaha, pake 'zoo' memang terlihat lebih keren kali ya? 


Gembira Loka Zoo memang sudah beda dengan apa yang saya nikmati sewaktu bocah dulu. Saat ini sudah ada Reptile Park yang menampilkan koleksi berbagai reptile dari berbagai dunia. Ada juga aneka kodok dari aneka bangsa. Lucu-lucu ragamnya. Sayangnya, karena tempatnya yang terlalu luas dan sudah pasti butuh biaya renovasi yang muhaal, belum semua bagian mendapat sentuhan baru. Padahal untuk bisa menikmati area seluas itu, pengunjung butuh tempat rindang atau shelter jika tiba-tiba hujan. Bahkan juga butuh moda transportasi tertentu di dalam kebun binatang supaya yang kecapean jalan bisa naik ke shuttle bus atau kereta mini atau apapun namanya.


[more image please click here]

Monday, January 31, 2011

plesiran bareng baby itu irit kok!

Baby Food dari Garuda Indonesia

Ngajakin plesiran baby/infant (under 2 years) itu sebenarnya irit loh. Yuk, kita itung-itungan. Biaya transport dan akomodasi yang menyedot dana terbesar selagi traveling, nggak berlaku buat baby. 

Akomodasi jelas free karena hotel biasanya memberlakukan tarif sewa kamar untuk berdua dan free for kids under 10 years old. Biaya transport jika menggunakan moda transportasi darat juga free. Naik kereta dan bus nggak bakalan di-charge. Sementara kalao naik pesawat, jauh deket tarif infant berkisar antara 120-150 ribu (tergantung airline). Tarif ini berlaku flat alias pukul rata, enggak kayak tarif emak dan bapaknya yang mengikuti jenis tiketnya.

Meskipun infant cuma bayar 120 ribu, tapi di pesawat dapat jatah konsumsi yang nggak kalah sama orang dewasa (tentu saja yang ini hanya berlaku buat airline yang memberi fasilitas konsumsi untuk penumpang). Misalnya, saat Baby Bindi naik Merpati Airlines dari Jogja - Makassar return. Baby Bindi juga dapat satu dos isi makanan komplit (bukan snack) seperti jatah emak dan bapaknya. Memang sih itu nggak bakal kemakan sama Bindi karena nasinya kurang lunak, tapi kan lumayan buat nambahin jatah emak dan bapaknya. Hihi...!

Yang asyik kalo naik Garuda (itu sudah pasti). Ternyata Garuda punya menu khusus buat infant, yaitu 2 botol makanan bayi merk Heinz. Sedaapp...! Harga satu botol Heinz baby food di supermarket antara 22 - 32 ribu. Untuk dua botol itu anggep aja 50 ribu. Padahal Baby Bindi cuma bayar tiket Garuda ke Bali 130 ribu sekali jalan. Kalau dikurangi 50 ribu buat jatah konsumsinya, berarti cuma sekitar 80 ribu yang masuk ke airline.


Itu pun nggak semua. Karena masih ada gift lainnya dari Garuda untuk infant flyer ini, yaitu satu paket berisi diapers, bedak jonhson ukuran kecil, satu saset tissue basah, satu lembar perlak plastik ukuran mini, dan juga mainan bebek-bebekan dari karet yang bisa bunyi cit-cit-cit. Saya kurang tahu persis berapa biaya produksi untuk satu paket gift itu. Mungkin sekitar 25-50 ribu kali ya. 

Nah, kalo begitu semakin kecil lagi jatah rupiah yang masuk ke airline. Bisa dibilang, nol rupiah alias pihak airline nggak terlalu ngarep pemasukan dari infant flyer ini. 
Setelah transport dan akomodasi, aksi hemat traveling with baby ini masih berlaku di daerah tujuan. Buat masuk-masuk ke tempat wisata, biasanya bayi nggak perlu bayar tiket.Kalo ada yang memberlakukan tiket buat bayi, mari kita komplain seperti pengalaman saya saat ngajak Bindi ke Trans Studio Makassar. 

Oh ya, Based on my experience, traveling with Baby Bindi itu bikin saya nggak tergoda bela-beli yang aneh-aneh. Di Ubud misalnya, biasanya saya suka bela-beli craft aneh-aneh buat pajangan rumah, eh waktu sama Bindi, saya nggak beli apapun. 

Alasannya sederhana, pertama nggak ada waktu karena buat ngurusin Bindi sejak bangun tidur sampe kemudian saatnya jalan-jalan udah menghabiskan energi. Kedua, nggak nyaman banget ngajak Baby Bindi milih-milih craft, entar malah tangannya beraksi mberantakin dagangan orang kan bikin celaka. Ketiga, terlalu menikmati kebersamaan dengan Bindi sampe nggak kepikiran mikiran napsu pribadi. Hihii...!

Nah, sekarang ketahuan kan, emang irit. Jadi, nggak ada alasan buat nggak ngajak si kecil jalan-jalan kan? Mumpung dia masih infant under 2 years, yuks ajakin traveling. Kalo udah di atas 2 tahun udah bayar full tiket pesawatnya loh. Hehehe...!!!!

Sunday, January 30, 2011

kuliner nusantara isn't a baby friendly destination

Baby Bindi terlelap di Bali Zoo resto

Kalo lagi plesiran sama Baby Bindi, saya dan Edo nyaris nggak pernah makan bersama dalam satu meja. Makannya musti bergantian. Kalo saya yang duluan makan, berarti Edo yang jagain Bindi, biasanya diajak jalan-jalan. Begitu saya selesai makan, gantian saya ambil alih Bindi. Kalau kebetulan waktu makan kami bersamaan dengan waktu makannya Bindi, seringnya pas makan siang,  barulah kami bisa duduk semeja bertiga. Saya nyuapin Bindi duluan dan Edo makan menunya. Begitu Edo dan Bindi selesai makan, mereka jalan-jalan sementara saya gantian yang menyantap makanan.

Terkecuali kalo ngepasin jam makan, Baby Bindi lagi tertidur. Ini kesempatan emas yang nggak kami sia-siakan untuk menikmati menu pilihan yang mak-nyus. Mumpung si kecil lagi terlelap, emak dan bapaknya puas-puasin makan yang enak-enak. Hehe...!

Demi kenyamanan Baby Bindi yang terpaksa nungguin emak dan bapaknya gantian makan, kami suka pilih-pilih tempat makan. Sokur-sokur yang ada garden dan kolam ikan, jadi Bindi bisa enjoy main-main selagi kami gantian makan. Apes-apesnya kami pilih makan di mall yang adem dan enak buat strolling juga. Kalo sudah begini, soal pilihan menu jadi nomor dua. Sing penting wareg, nggak perlu kuliner-kulineran deh.

Tapi sesekali pernah juga kami 'maksa' Bindi wisata kuliner nusantara. Waktu di Makassar, saya ajakin Edo makan Konro Karebosi dan ikan bakar Lae-Lae. Niatan saya sebenarnya mulia, karena ini kali pertama Edo ke Makassar, sementara saya udah sering. Masak enggak nyobain kuliner Makassar sih? Padahal kan banyak ragamnya, dari konro, mie titi, sup kepala ikan, dll..dll...

Begitu nyampe di Konro Karebosi, saya dan Edo baru sama-sama tersadar, bahwa warung ini nggak baby friendly. Coba saja lihat, pengunjungnya buanyak,tempat duduknya terisi semua, musti nunggu sebentar untuk bisa duduk, sudah begitu asapnya mengepul nggak nyaman banget buat si kecil. 

Saat bergantian makan pun juga kurang nyaman, karena nggak ada tempat buat jalan-jalan sama Baby Bindi. Keluar warung udah jalan, panas pula kalo siang. Sementara di dalam warung juga padat. Alhasil, konro yang biasanya terasa nikmat kalo saya santap sendiri pas lagi ke Makassar, kali ini berasa sama sekali nggak ada enak-enaknya. Makannya musti buru-buru karena kasian sama Baby Bindi. Hiks..!

Sejak itu kami mencoret daftar kuliner nusantara dalan tiap family trip kami. Mendingan makan di restoran atau di mall yang nyaman buat si kecil. 




Friday, January 28, 2011

free for infant, tapi pake eyel-eyelan


awal desember lalu baby bindi jalan-jalan ke trans studio makassar. meski belum banyak wahana yang baby friendly, tapi lumayanlah..bindi bisa liat aneka permainan dan juga jalan-jalan di theme park studio yang luas dan adem.

oh ya, saat mau beli tiket, saya sempet nanya ke petugas, apakah bayi juga harus bayar tiket. lalu petugas tiket menyuruh saya nanya ke petugas pemeriksa tiket yg berjaga di gate, pintu masuk. "harus bayar full," katanya. bayi yang berumur 4 bulan ke atas harus bayar seperti orang dewasa. saya kaget, masa bayi belum bisa jalan dan tidak mungkin menikmati semua wahana yang disediakan juga harus bayar full? yang bener aja. di luar negeri biasanya free for infant, 50% for kids, dan full payment for adult.

lalu saya bertanya pada petugas di ticket booth lagi, "yang bener aja mbak, masa bayi bayar full?" lalu mereka bingung sendiri. saya di suruh nunggu beberapa saat. si mbak itu bolak-balik menghubungi orang-orang yang dianggap bisa membuat keputusan.
setelah sekian lama menunggu, barulah si mbak bilang bahwa bayi gak perlu bayar. saya pun melenggang dengan senang menuju pintu masuk. "sudah ada tiket untuk bayinya?" tanya petugas pintu masuk. saya terkaget. "lho, tadi dibilang free tuh?" si mbak petugas menggeleng, "harus punya tiket sendiri," katanya maksa. saya jadi sebel, "oke, mbak ke sana aja, tanya ke petugas di ticket booth ya," males dong kalo saya disuruh bolak-balik.

finally sih, dapet free for infant. tapi pake nunggu lama dan pegel. hiks..!

Friday, January 14, 2011

Baby Bindi on Magazine (Maj. Sekar, 12 Jan 2011)


Kebanggaan seorang Ibu yang berprofesi sebagai penulis adalah, ketika anaknya nongol di media. Hehe...! Karena Baby Bindi belum bisa baca dan nulis, sementara enggak apa deh diwakili emaknya dulu.

Ceritanya, bulan November 2010 lalu saya diwawancarai Mbak Tassia dari Maj. Sekar (Gramedia Majalah). Wawancara by phone Jakarta - Jogja. Lumayan lama juga wawancaranya, soalnya sempet diselingi break karena batuk-batuk dulu. Hiks..!

Tema wawancaranya seputar "traveling with baby". Buat saya, yang doyan traveling, ngajakin Baby Bindi jalan-jalan itu merupakan bagian dari proses belajar mengenal alam dan budaya lain. Sebisa mungkin saya berusaha mengajak Bindi traveling yang saya dedikasikan untuk dirinya, bukan untuk kepentingan orang tuanya.

Karena itu, saya lebih suka mengajak Bindi traveling ke tempat-tempat yang saya sudah sering mengunjunginya. Misalnya ke Ubud, Bali. Saya kan udah lumayan fasih daerah itu, jadi saya nggak tergoda pengin melihat macem-macem. Dengan begitu, saya bisa optimal memperkenalkan Bindi pada alam dan budaya lain: jalan-jalan ke sawah, ngliat enabuh gamelan bali, main sama bule-bule kecil, dll.

Ada kalanya, saya terpaksa mengajak Baby Bindi bepergian jauh untuk urusan keluarga. Nah, ini yang rada-rada bikin repot karena nggak bisa sepenuhnya rekreasi. Misalnya saat kami ke Makassar bulan Desember 2010 lalu. Kami ke sana dalam rangka kawinan sodara.

Sebenarnya, kami sudah disiapin kamar di hotel yang nggak jauh dari famili yang punya gawe itu. Tapi demi kenyamanan Baby Bindi, saya memilih bayar hotel sendiri di dekat Pantai Losari, yang jadi agak jauh dari rumah famili. Alasannya sederhana aja sih, kalau saya nginep di dekat rumah famili, pasti mau nggak mau harus menghadiri prosesi pernikahan adat Bugis yang sudah berlangsung selama 3 hari berturut-turut sebelum malam resepsi. Duh, enggak kebayang, capeknya bawa Bindi ke sana. Walaupun, sejujurnya, saya sangat amat ingin mendokumentasikan prosesi perkawinan Bugis secara lengkap. Mana famili saya itu keturuan bangsawan bugis pula kan. Tapi kalau saya maksain keinginan saya, kasian Baby Bindi-nya.

Jadilah saya pilih hotel menjauh, supaya ada waktu lebih longgar untuk berekreasi. Bindi bisa berperahu ke Pulau, bisa main ke Trans Studio, bisa jalan-jalan menyusur pantai, juga masih bisa menghadiri salah satu prosesi adat Mapacci pada malam sebelum ijab.

Nah...kembali ke majalah Sekar edisi 12 Januari 2011..edisi Baby Bindi...semoga akan segera disusul dengan buku yang saya susun "Traveling with Baby". Doain yaa....!

Thursday, January 6, 2011

English Tea: Twinings & Yorkshire Tea



Sebagai penikmat teh, saya merasa menemukan surga saat traveling di Inggris. Tahu sendiri kan, orang Inggris punya tradisi minum teh yang lahir dari kalangan bangsawan Inggris sejak abad ke 16. Tradisi para bangsawan ini menjadikan Inggris sebagai salah satu negara yang memiliki teh ternikmat dan dikenal luas ke penjuru dunia. Salah satunya adalah Twininggs of London yang sering saya beli di sejumlah supermarket di Indonesia.

Twinings ternyata mulai dipasarkan oleh Thomas Twining sejak lebih dari 300 tahun yang lalu, tepatnya pada 1706. Racikan teh klasik andalannya yang sangat saya sukai adalah English Breakfast dan Earl Grey. Keduanya merupakan jenis teh hitam, bedanya English Breakfast sedikit lebih kental sementara Earl Grey lebih beraroma dan bercampur citarasa bergamot. Teh hitam klasik ini paling nikmat diseduh pagi hari sebagai menu sarapan.

Saat menginap di rumah Ima, saya mendapat suguhan teh Twinings dengan aneka rasa buah. Ada rasa strawberry, mango, orange, cinnamon, dan lainnya. Bahkan juga ada rasa campuran dari beberapa buah dalam satu tea bag. “Kirain Twinings cuma bikin classic tea,” kata saya sambil mencicip teh tiga rasa orange, mango, cinnamon dalam satu satu kantong. Ternyata enak juga. Jadilah saya membeli beberapa kotak Twinings Infusion aneka rasa yang pada saat itu belum banyak dijumpai di Indonesia.

Kebetulan pula saya belanja Twinings di minimarket Tesco di Leeds yang notabene merupakan wilayah Yorkshire. Mendadak saya jadi ingat tentang Yorkshire Tea yang pernah saya baca situsnya di internet. Mumpung lagi di Yorkshire, mendingan beli Yorkshire Tea Traditional sekalian meski cuma sekotak buat incip-incip. Harganya sama, sekitar £2.50 per kotak isi 25 bags.

Yorkshire Tea, teh yang diproduksi Taylors of Harrogate ini mungkin hanya popular di negara asalnya. Sepanjang yang saya ingat, sepertinya belum pernah menemukan kotak teh Yorkshire di Indonesia, bahkan di supermarket terkemuka seperti Sogo dan Carrefour. Padahal Yorkshire Tea umurnya juga sudah ratusan tahun loh. Perusahaan teh yang didirikan oleh Charles Taylor sudah ada sejak tahun 1886 atau lebih dari 200 tahun yang lalu.

Saat membeli beberapa kota teh Twinings dan sekotak teh Yorkshire di minimarket Tesco, saya melihat varian Yorkhshire Tea tidak sebanyak Twinings. Kalau nggak salah nggak lebih dari lima rasa, yaitu Traditional, Hard Water, Gold, Decaffeinated, dan Assam. Stok yang paling banya dipajang di rak adalah Traditional. Tapi selain teh, juga ada beberapa biskuit Yorkshire. Biskuit ini biasanya dimakan bersamaan minum teh. Rasa biskuit yang manis bisa menjadi pengganti gula, sehingga teh tak perlu diseduh dengan gula pasir lagi.

Soal rasa tehnya dibanding Twinings, menurut kecapan lidah saya sih sebenarnya nggak beda-beda amat. Sama-sama nikmat dan tidak terlalu pekat (apalagi jika dibanding dengan racikan teh nasgital –panas, manis, dan kental- ala Jogja). Sayangnya Yorkshire Tea masih sulit dibeli di Indonesia. Jadi sampai sekarang saya hanya setia pada Twinings yang mudah diperoleh di supermarket di Jogja. Hehe…!

Tuesday, January 4, 2011

london black cab


“Jangan naik taksi di London kalau nggak mau jadi kere.” Kalimat itu disampaikan hampir sebagian teman yang saya pernah berkunjung atau tinggal di London. Taksi memang merupakan alat trasnportasi termahal di Inggris. Apalagi buat traveler asal Indonesia yang nilai kurs rupiahnya terasa jatuh banget jika disandingkan dengan poundsterling.

Tapi siapa sangka jika ternyata saya terpaksa naik taksi dari London ke Heathrow airport yang ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dan harus membayar kurang lebih 600 ribu jika dirupiahkan pada tahun 2007. Ini gara-gara Dewi, teman jalan saya, tersesat di Tower Bridge dan kami sempat kucing-kucingan sementara harus segera ke airport untuk kembali ke Indonesia. Karena nggak mau mengambil resiko bakal ditinggal pesawat dan itu berarti kami bakal butuh uang lebih banyak untuk biaya hidup tambahan di London, akhirnya saya memutuskan untuk “meningalkannya”, kembali ke hotel mengambil bagasi kami di loker. Lalu saya SMS ke Dewi menyuruhnya langsung ke airport meski saat itu saya bener-bener nggak tahu posisinya ada di mana.

Dari hostel tempat kami menginap di Camden, saya terpaksa menyewa taksi meskipun sebenarnya stasiun tube nggak seberapa jauh dari hostel. Masalahnya saya kan harus bawa bagasi milik Dewi juga. Nggak sanggup banget jika harus naik turun tanggal stasiun tube dengan 2 kopor dan 2 ransel besar.

Saya minta bantuan resepsionis untuk menelponkan taksi. Setelah terhubung, resepsionis memberikan gagang telpon ke saya untuk bernegosiasi sendiri dengan driver. Tarif taksi yang saya sewa dari hostel itu ternyata bukan tarif resmi, tapi jatuhnya lebih murah karena menggunakan mobil pribadi bukan city cab resmi. Sebenarnya agak deg-degan juga naik taksi gelap (sopir taksinya pun berkulit gelap karena migrant asal Afrika). Buat antisipasi, saya sempat mencatat plat nomornya dan kemudian saya kirimkan via SMS ke suwami yang ada beribu mil di Jogja. Hehe…!

Oh ya, tetapi saya juga pernah mencicip naik black cab saat di Leeds. Kali ini yang bayarin sang host alias tuan rumah, yaitu dari terminal Leeds ke rumah Ima di Sevile Road. Jaraknya nggak terlalu jauh, sekitar 10 menit saja waktu tempuhnya.

Ternyata beda loh, naik black cab yang bentuknya mungil dan mengingatkan saya pada Mr. Bean itu. Beda dengan kalau kita naik taksi-taksi di Indonesia atau di Singapura. Bedanya, di belakang kursi sopir dibatasi oleh kaca bening sehingga di dalam mobil imut ini terdapat dua ruang yang terpisah, yaitu ruangan driver dan ruangan penumpang. Memang sih, belum semua city cab sudah dipasangi partisi kaca seperti ini. Konon, ini demi keamanan si sopir, supaya tidak terjadi tindak kejahatan yang dilakukan oleh penumpang taksi. Tapi barangkali juga demi privasi penumpang. Dengan adanya partisi berupa kaca, obrolan penumpang nggak terdengar oleh driver.

Untuk komunikasi antara driver dengan penumpang dilakukan lewat mikrofon yang terpasang di kabin. Saat kami bertiga lagi seru-serunya ngobrol, tiba-tiba terdengar suara driver yang menanyakan arah tujuan kami lewat speaker kecil yang tersedia. Lalu dengan segera Ima menjawab sambil mendekatkan mulutnya kea rah speaker tersebut. Lucu juga ya.


Tarif Resmi Taksi di London (sumber dari Transport for London)

Distance

Approx
journey
time

Monday to Friday
06:00 - 20:00
(Tariff code 1)

Monday to Friday
20:00 - 22:00
Saturday and Sunday
06:00 - 22:00
(Tariff code 2)

Every night
22:00 - 06:00
Public holidays
(Tariff code 3)

1 mile

5 - 12 mins

£4.60 - £8.40

£5.00 - £8.60

£5.20 - £8.60

2 miles

8 - 15 mins

£7.20 - £11.20

£7.20 - £11.20

£8.00 - £12.40

4 miles

15 - 30 mins

£11 - £19

£13 - £19

£15 - £23

6 miles

20 - 40 mins

£17 - £28

£19 - £28

£24 - £34

Between Heathrow
and
Central London

30 - 60 mins

£43 - £75

£43 - £75

£43 - £75

*) Tarif minimum £2.20


note: image black cab dicomot dari sini

Thursday, December 30, 2010

my things in 2010


Ada banyak keinginan yang belum tercapai sepanjang 2010. Tapi juga banyak hal tak terduga yang membuat tahun 2010 terlewati dengan penuh gairah. Saya jadi pengin berbagi kegairahan yang saya lewati bulan demi bulan di tahun 2010.

  1. Januari 2010

Live the dream. Januari adalah bulan bermimpi, memimpikian sejumlah ide besar untuk mengisi bulan-bulan berikutnya di sepanjang 2010. Mimpi besar saya pada Januari 2010 adalah merintis publishing company. Sebenarnya bukan merintis, tapi meneguhkan karena bidang publishing sudah cukup lama saya tekuni. Sudah 7 tahun saya mengerjakan beberapa project yang terkait dengan publishing. Hanya saja, buku dan media (newsletter/majalah) yang saya terbitkan tidak dijual umum alias hanya untuk kalangan terbatas. Padahal jumlahnya lumayan banyak, beberapa jurnal universitas, ada newsletter/corporate magazine perusahaan BUMN, ada buku hasil riset NGO, juga travel magazine. Jadi, jika pada Januari 2010 saya pengin show off ke public, menerbitkan buku atau majalah yang dijual umum, yang nangkring di rak-rak toko buku (best seller, harapannya!), bukan sebuah mimpi yang berlebihan kan?

  1. Februari 2010

Off dulu. Sebenarnya saya sudah berniat untuk cuti jalan-jalan di tahun 2010, mengingat Baby Bindi masih jauh lebih membutuhkan saya alias belum bisa terlalu lama ditinggal. Juga masih bikin repot kalau diajak jalan karena usianya baru mau masuk 4 bulan. Selain itu saya juga lagi berjuang membangkitkan semangat seorang sahabat untuk menulis kisah perjalanannya akan saya terbitkan. Ini bakal jadi buku pertama yang diterbitin publishing company yang saya impikan di bulan lalu.

  1. Maret 2010

Next Trip: Europe. Tawaran business trip ke Paris itu datang tak dinyana dari seorang rekan sesama backpacker. Saya tak kuasa menolak karena kerinduan menggendong ransel sudah setahun terpendam. Kesempatan tak akan datang dua kali. Tapi bagaimana dengan Baby Bindi dan suwami nanti? Apa kata orang jika saya meninggalkannya untuk bepergia ke benua lain? Sungguh berat rasanya menyampaikan niatan business trip ini ke suwami. Tapi, masak kesempatan emas ini disia-diakan begitu saja? Beruntunglah saya punya suwami yang sungguh pengertian. Agenda jalan-jalan disambi bisnis itupun dikabulkan. Setelah mendapat restu dari suwami, mulailah saya menyusun itinerary dan berburu tiket promo bair irit.

  1. April 2010

Deal! Mengontak penerbit seraya memamerkan itinerary saya ke Eropa selama 15 hari di bulan Mei mendatang. Buntutnya sih menawarkan diri untuk menuliskan kisah perjalanan itu untuk kemudian diterbitkan menjadi buku.

  1. Mei 2010

Female Solo Traveler. Meski sudah cukup sering jalan sendiri, tapi perjalanan solo kali ini sangat istimewa buat saya. Bukan karena solo traveling ke Eropa, tapi karena saya terpaksa meninggalkan Baby Bindi (6 bulan) di rumah bersama Bapaknya. Mengharu biru banget. Saya tidak dapat menahan tangis ketika akan berangkat, bahkan Mbok Nem ikut sesenggukan. Saya juga selalu menitikkan air mata setiap kali Edo mengirim MMS berisi foto maupun rekaman suara Baby Bindi. Di negeri yang jauhnya ribuan mil dari Ngayogyakarta itu, saya hanya bisa berdoa semoga suatu hari bisa Eurotrip bareng Baby Bindi dan Bapaknya.

  1. Juni 2010

My travelogue book. Ini menjadi bulan yang paling menggairahkan. Saya tidak hanya menuliskan kisah perjalanan saya selama 15 hari ke Eropa, tetapi juga mengerahkan timkreatif di kantor untuk merancang kaver dan melay-out isi buku.

  1. Juli 2010

Travel Writing Forum. Kangen bikin event Sembari Minum Kopi. Dan mumpung sebentar lagi saya akan meluncurkan buku Eurotrip, jadilah forum ini ditumpangi promosi buku sendiri. Hehe…! Tapi forum kali ini cukup seru, bekerjasama dengan Komunitas Backpacker Dunia, saya menggelar tema “Travel Writing & Sharing Info Backpacking ke Eropa”.

  1. Agustus 2010

Traveling with Baby Bindi. Untuk pertama kalinya saya mengajak Baby Bindi terbang dengan pesawat dan berlibur ke Bali. Liburan kali ini benar-benar saya tujukan buat mengajari Bindi bersentuhan dengan budaya lain. Bali saya pilih karena multikultur. Harap maklum, buat saya traveling itu adalah experience different culture, maka saya pun penginnya Baby Bindi juga mulai belajar bersentuhan dengan kultur lain sejak dini. Setelah lolos liburan ke Bali, Bindi akhirnya saya buatkan passport. Siap-siap buat overseas ya, nduk.

  1. September 2010

Terbit. Sebenarnya naskah dan lay out buku sudah kelar sejak Agustus. Tapi dikarenakan berdekatan dengan Idul Fitri, buku Eurotrip: Safe & Fun baru bisa nangkring di tokot-toko buku sekitar 20 September. Buku ini adalah buku traveling ke dua yang sudah diterbitkan oleh penerbit yang sama.

  1. Oktober 2010

Birthday Trip. Oktober adalah bulan yang selalu memberi keberuntungan buat saya. Oktober tahun ini juga luar biasa karena Baby Bindi genap satu tahun. Berhubung kami sama-sama lahir di bulan Oktober, boleh dong merayakan bersama dengan traveling. Sekali lagi saya memilih Bali, lebih tepatnya Ubud. Kami stay di Ubud selama 4 hari, nggak mampir Kuta sama sekali seperti umumnya wisatawan domestic yang berlibur ke Bali.

  1. November 2010

Nominator. Sungguh, saya tak menyangka bahwa “TALES from the ROAD”, travelogue pertama saya (terbit 2009), terpilih sebagai finalis 5 besar dalam Festival Pembaca Indonesia 2010. Buku yang nggak best seller itu, ternyata mendapat apresiasi yang membuat saya terharu sekaligus bangga dan kian besemangat untuk menulis etnografi perjalanan yang nggak sekedar how to get there.

  1. Desember 2010

Familty Trip to Makassar. Meski sudah berpuluh kali ke Makassar untuk urusan gaweyan, tapi inilah pertama kalinya saya ke Makassar bersama suwami dan Baby Bindi. Bahagianya bisa mengenalkan Bindi pada kultur yang berbeda lagi.



Note:

Januari 2011 masih saya isi dengan mimpi di Januari 2010. Semoga setelah setahun mimpi itu akan berwujud. Live the Dreams!


image source: naturesgrafitti

Wednesday, December 29, 2010

Borough Market, pasar yang bikin lapar


Borough Market, pasar makanan dan kue (food market) ini saya temukan tanpa sengaja dalam perjalanan menuju Tower Bridge. Dari terminal Victoria, saya naik bus dan turun di dekat persimpangan jalan antara Southwark Street dan Borough High Street. Lalu berjalan kaki menyusur Stoney Street yang menurut peta yang saya baca akan membawa saya ke tepian sungai Thames menuju London Bridge dan Tower Bridge. Baru beberapa langkah menyusur jalan itu, mata saya tertegun menemukan los-los pasar buah dan makanan. Langkah saya langsung terhenti mengamati sekeliling. Seketika itu pula saya merasa lapar, lapar mata dan lapar perut!

Bayangkan, di sebelah kanan saya ada los buah dan sayuran untuk salad Elsey & Bent yang menyegarkan mata. Di sebelah kiri saya ada kios Aroma Market yang menjual segala jenis penyedap masakan Italia. Di sebelahnya ada fish shop. Lalu tak jauh di hadapan saya yang tengah berhenti melangkah karena takjub, ada los City Bakery yang menjual aneka bread, pastry, dan cake.

Makin ke dalam langkah saya mneyusur Stoney Street, makin lapar saja perut ini karena makin banyak aneka makanan yang teronggok. Mana sesiangan itu saya hanya menyantap seporsi fish & chip.

Borough merupakan food market yang sudah ada sejak tahun 1014 atau bahkan jauh sebelumnya. Pertumbuhan food market ini tak lepas dari keberadaan London Bridge, yang menarik minat para pedagang untuk berjualan bahan makanan seperti sayuran, ikan, gandum dan biji-bijian. Jumlah pedagang yang berjualan di sekitar London Bridge ini kian bertambah, hingga terpaksa direlokasi di tempat lain yang tak begitu jauh dari London Bridge, yaitu di Borough High Street sejak abad ke 13. Kawasan itulah yang hingga kini kemudian menjadi Borough Market.

Hingga kini Borough Market menjadi food market terbesar dan terlengkap di Inggris. Traders yang membuka kios di Borough Market umumnya bukan sekedar reseller, tetapi juga produsen. Misalnya para penjual kue, mereka kebanyakan menjual kue yang mereka buat sendiri, bukan kue titipan.

Pengin ngintip bagaimana pasar makanan ini menggugah selera kita? Catat hari bukanya ya, soalnya nggak setiap hari. Hanya hari Kamis (11.00 – 17.00), Jumat (12.00 – 18.00), dan Sabtu (08.00 – 17.00). Sebenarnya selain hari-hari itu juga tetap ada pedagang yang menggelar dagangan. Tapi jumlahnya tidak sebanyak pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu.

How to get there

· Naik tube, turun di stasiun London Bridge atau Borough

· Naik bus, turun di London Bridge, Borough High Street, atau Southwark Street

· Jalan kaki di sisi selatan sungai Thames (Southbank) atau jika dari London City menyeberangi London Bridge.

Thursday, December 23, 2010

YORK kota hantu yang cantik



Percaya nggak percaya, York mendapat julukan the most haunted city in Europe. Kota hantu! Konon memang banyak hantu gentayangan di penjuru kota ini. Selain bercokol di bangunan-bangunan kuno warisan Abad Pertengahan seperti York Minster dan St. Mary’s Abbey, hantu-hantu itu juga suka nongkrong di sejumlah bar & café, bahkan tinggal di beberapa hostel. Serem banget ya?

Maklum, hampir semua bangunan yang ada di kota York merupakan bangunan kuno yang berusia ratusan tahun, bahkan lebih dari seribu tahun. Konon, bangunan kuno yang masih bertahan membuat penghuni kota masa lalu itu juga tetap bertahan.

Saking banyaknya hantu di York akhirnya banyak bermunculan biro perjalanan yang secara khusus menyediakan paket “ghost hunting”. Paket wisata hantu ini tarifnya antara £4 - 5 per orang. Wisata dilakukan pada malam hari sekitar puku 20.00 (atau lebih malam lagi) dan berlangsung sekitar satu jam. Destinasinya macem-macem, tiap biro punya rute “jejak hantu” yang berbeda tetapi biasanya menyusur kawasan yang memang dikenal angker seperti di York Minster. Peserta tour akan diajak berjalan-jalan menyinggahi tempat-tempat yang sering terjadi “penampakan” sambil didongengi tentang tragedi jaman Victorian yang menyisakan arwah-arwah gentayangan di sekitar York Minster. Dongeng menjelang tidur yang menyeramkan!

Lalu saya pun bertanya-tanya, memangnya seseram apa sih kota York itu? Di buku-buku traveling York sering digambarkan sebagai kota kecil tercantik di Inggris Utara. Tapi juga selalu ada deskripsi tambahan tentang hantu-hantu yang sering menampakkan sosoknya dalam remang. Ngeri juga membayangkan jangan-jangan nanti saya ketempelan hantu York saat jalan-jalan di sana. Gimana pula kalau mendadak kesurupan, lalu saya menjadi manusia abad pertengahan yang bergaya aristokrat. Atau malah berubah menjadi manusia Viking. Hiiiii….!

Tapi kemudian buru-buru saya tepis, daripada serem membayangkan hantu di York yang bakal nyamperin, mendingan saya menikmati pesona York sebagai city of extraordinary cultural dan historical wealth. York adalah kota kecil di Inggris Utara yang menyimpan warisan sejarah budaya pada masa Romawi, jaman Viking, dan Abad Pertengahan. Sisa-sisa warisan tiga jaman itu berkumpul menjadi satu di sebuah tempat yang dipagari tembok (city walls) sepanjang kurang lebih 3.5 km. Kebayang kan betapa kecilnya York dan betapa di tempat yang kecil itu tersimpan warisan sejarah budaya yang tak ternilai indahnya.

Si kecil York juga memiliki lorong-lorong sempit yang diapit bangunan-bangunan lama berdinding bata merah yang kini difungsikan sebagai café, toko, dan tourist attractions lainnya. Inilah daya tarik lain di York yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain. Di jalan yang sempit itu berduyun turis menyusurinya, menikmati kesejukan kota York sambil keluar masuk dari satu toko ke toko lain. Itulah suasana di Shambles, jalan tertua di York yang paling crowded dan mengundang siapapun untuk ikutan menyusur lorongnya sambil window shopping.

Suasana serupa Shambels sebenarnya dapat dijumpai di hampir semua lorong-lorong York, seperti yang berada di sekitar York Minster, katedral terindah di kota ini. Di mata saya York adalah lorong-lorong sempit dan panjang yang diapit toko-toko berarsitektur kuno abad belasan. Semakin dalam lorong yang kita susuri, semakin mendalam pula keterpesonaan saya pada York. Keterpesonaan yang membuat saya abai bahwa s cantik York ini juga dikenal sebagai Kota Hantu.

FOTO> atas: york minster | tengah: hantu kemayu di taman samping york minster..xixixixi... | bawah: lorong-lorng york yang cantik

Saturday, December 11, 2010

Leeds, a Shopping Arcade Tour



Jika buka karena pengin menghemat akomodasi dengan numpang di rumah seorang kawan, mungkin saya tidak akan singgah di Leeds. Kota yang terletak di Yorkshire Barat (Inggris Utara) ini memang jarang-jarang disebut dalam destinasi wisata. Bahkan mungkin travel agent di Indonesia tidak ada yang mengenal kota Leeds. Saya sendiri juga baru tahu ada kota bernama Leeds hanya karena punya kenalan yang kuliah di sana. Hehe…!

Padahal, menurut Wikipedia, Leeds adalah kota ketiga terbesar (berdasar populasi)setelah London dan Birmingham. Leeds juga merupakan kota di Inggris yang dianggap paling sukses dalam New Urban Revolution. Leeds dianggap berhasil meredisain dan rebranding kotanya menjadi ‘new something of somewhere’. Tapi, apa dong yang menarik dari Leeds untuk wisatawan?

“Leeds kan terkenal dengan shopping arcade-nya,” kata Ima, kenalan saya yang sudah tiga tahun tinggal di Leeds. Kota belanja dong kalau gitu. Apa bedanya sama Hong Kong? Hehehe, makin banyak aja tanda tanya yang berkeliaran di benak saya. Habisnya, sejak kami tiba di Leeds pada sore hari sekitar pukul 19.00 (langit masih terang benderang di musim semi), saya tidak melihat tanda-tanda kota ini layak disebut kota belanja. Apalagi shopping arcade-nya sampai dikenal luas itu. Ah, mungkin karena Ima tinggal di Leeds dan pengin promosi kota tempatnya menuntut studi kali ya? Batin saya penasaran.

Padahal ada produk retail besar yang berasal yang berasal dari Leeds lho. Tahu Marks & Spencer (M&S) kan, departemen store terbesar di Inggris yang juga ada di Jakarta. Selama ini kita hanya mengenalnya sebagai deptstore yang berasal dari Inggris, tapi tidak tahu persis Inggris-nya di kota mana. Ternyata M&S lahir dari sebuah kios kecil di pasar Leeds, yaitu Leeds City Market atau Leeds Kirkgate Market. Nggak nyangka kan?
Michael Marks, pemilik kios di Kirkgate Market itu mulai berjoin dengan Thomas Spencer pada tahun 1884. Duet ini melahirkan brand M&S yang kini mendunia dan memiliki sedikitnya 895 toko yang tersebar di lebih dari 40 negara.

Sejarah perbelajaan Leeds sebenarnya sudah dimulai sejak era Victorian. Pada masa itu Leeds merupakan salah satu kiblat belanja di Inggris. Saat ini pun Leeds masih menjadi kota paling asyik buat belanja bagi yang tinggal di Inggris utara. Saya baru percaya bahwa Leeds merupakan a mecca of shopping setelah mampir ke Victoria Quarter (VQ) shopping arcade. Victoria Quarter merupakan pusat perbelanjaan kelas atas dibangun ulang pada tahun 1989 – 1996. Area ini meliputi sejumlah shopping arcade yang sudah ada sejak abad 19, yaitu County Arcade, Cross Arcade, Queen Victoria Street, dan King Edward Street.

Saya menyempatkan menyusur lorong Cross Arcade dan County Arcade yang membentang antara vicar Lane dan Briggate. Lorong panjang dengan sisi kanan kiri berupa toko-toko branded yang menjual produk kelas atas seperti FCUK, Harvey Nicholas, Louis Vuitton, dan produk branded lainnya. Sepertinya nggak nyangka, kota yang nggak popular di Inggris itu ternyata memiliki sejumlah outlet resmi produk fashion branded.

Selain berisi toko-toko produk kelas dunia, arsitektur shopping arcade juga membuat saya takjub luar biasa. Arsitekturnya menonjolkan atap lengkung yang terbuat dari logam dan kaca. Sementara pada dindingnya terdapat sejumlah mozaik yang terbuat dari batu pualam.

Selain Victoria Quarter, tempat yang asyik melihat orang lalu lalang berbelaja adalah di Briggate, di sebelah timur pintu County Arcade. Suasana orang berlalu-lalang di Briggate ini mirip di Pasar Baru, Jakarta. Ramai. Saya menyempatkan duduk di bangku-bangku kosong yang tersedia di sepanjang ruas jalan di Briggate untuk menikmati lalulalang orang berbelanja.

Oh ya, ada satu lagi tempat belanja yang layak ditengok, yaitu Leeds City Market atau Leeds Kirkgate Market yang telah melahirkan pengusaha retailer besar Marks & Spencer. Leeds Kirkgate Market terletak di seberang Cross Arcade, yaitu di ruas jalan Vicar Lane. Di dalam pasar yang dibangun pada tahun 1875 ini memiliki interitor yang lebih klasik dengan bagian atapnya yang menggunakan glass-roof yang disangga lengkungan logam yang cantik.

Jadi, semalam di Leeds saya bisa menikmati rekreasi mata alias window shopping yang cukup menyegarkan. Ini window shopping dalam arti sesungguhnya loh, karena tak ada satu barang pun yang saya beli di kawasan belanja ini. Saya cuma mondar-mandir menikmati kesibukan orang berbelanja serta mengagumi arsitektur bangunan ini sambil bernarsis ria di depan kamera.