Thursday, December 30, 2010

my things in 2010


Ada banyak keinginan yang belum tercapai sepanjang 2010. Tapi juga banyak hal tak terduga yang membuat tahun 2010 terlewati dengan penuh gairah. Saya jadi pengin berbagi kegairahan yang saya lewati bulan demi bulan di tahun 2010.

  1. Januari 2010

Live the dream. Januari adalah bulan bermimpi, memimpikian sejumlah ide besar untuk mengisi bulan-bulan berikutnya di sepanjang 2010. Mimpi besar saya pada Januari 2010 adalah merintis publishing company. Sebenarnya bukan merintis, tapi meneguhkan karena bidang publishing sudah cukup lama saya tekuni. Sudah 7 tahun saya mengerjakan beberapa project yang terkait dengan publishing. Hanya saja, buku dan media (newsletter/majalah) yang saya terbitkan tidak dijual umum alias hanya untuk kalangan terbatas. Padahal jumlahnya lumayan banyak, beberapa jurnal universitas, ada newsletter/corporate magazine perusahaan BUMN, ada buku hasil riset NGO, juga travel magazine. Jadi, jika pada Januari 2010 saya pengin show off ke public, menerbitkan buku atau majalah yang dijual umum, yang nangkring di rak-rak toko buku (best seller, harapannya!), bukan sebuah mimpi yang berlebihan kan?

  1. Februari 2010

Off dulu. Sebenarnya saya sudah berniat untuk cuti jalan-jalan di tahun 2010, mengingat Baby Bindi masih jauh lebih membutuhkan saya alias belum bisa terlalu lama ditinggal. Juga masih bikin repot kalau diajak jalan karena usianya baru mau masuk 4 bulan. Selain itu saya juga lagi berjuang membangkitkan semangat seorang sahabat untuk menulis kisah perjalanannya akan saya terbitkan. Ini bakal jadi buku pertama yang diterbitin publishing company yang saya impikan di bulan lalu.

  1. Maret 2010

Next Trip: Europe. Tawaran business trip ke Paris itu datang tak dinyana dari seorang rekan sesama backpacker. Saya tak kuasa menolak karena kerinduan menggendong ransel sudah setahun terpendam. Kesempatan tak akan datang dua kali. Tapi bagaimana dengan Baby Bindi dan suwami nanti? Apa kata orang jika saya meninggalkannya untuk bepergia ke benua lain? Sungguh berat rasanya menyampaikan niatan business trip ini ke suwami. Tapi, masak kesempatan emas ini disia-diakan begitu saja? Beruntunglah saya punya suwami yang sungguh pengertian. Agenda jalan-jalan disambi bisnis itupun dikabulkan. Setelah mendapat restu dari suwami, mulailah saya menyusun itinerary dan berburu tiket promo bair irit.

  1. April 2010

Deal! Mengontak penerbit seraya memamerkan itinerary saya ke Eropa selama 15 hari di bulan Mei mendatang. Buntutnya sih menawarkan diri untuk menuliskan kisah perjalanan itu untuk kemudian diterbitkan menjadi buku.

  1. Mei 2010

Female Solo Traveler. Meski sudah cukup sering jalan sendiri, tapi perjalanan solo kali ini sangat istimewa buat saya. Bukan karena solo traveling ke Eropa, tapi karena saya terpaksa meninggalkan Baby Bindi (6 bulan) di rumah bersama Bapaknya. Mengharu biru banget. Saya tidak dapat menahan tangis ketika akan berangkat, bahkan Mbok Nem ikut sesenggukan. Saya juga selalu menitikkan air mata setiap kali Edo mengirim MMS berisi foto maupun rekaman suara Baby Bindi. Di negeri yang jauhnya ribuan mil dari Ngayogyakarta itu, saya hanya bisa berdoa semoga suatu hari bisa Eurotrip bareng Baby Bindi dan Bapaknya.

  1. Juni 2010

My travelogue book. Ini menjadi bulan yang paling menggairahkan. Saya tidak hanya menuliskan kisah perjalanan saya selama 15 hari ke Eropa, tetapi juga mengerahkan timkreatif di kantor untuk merancang kaver dan melay-out isi buku.

  1. Juli 2010

Travel Writing Forum. Kangen bikin event Sembari Minum Kopi. Dan mumpung sebentar lagi saya akan meluncurkan buku Eurotrip, jadilah forum ini ditumpangi promosi buku sendiri. Hehe…! Tapi forum kali ini cukup seru, bekerjasama dengan Komunitas Backpacker Dunia, saya menggelar tema “Travel Writing & Sharing Info Backpacking ke Eropa”.

  1. Agustus 2010

Traveling with Baby Bindi. Untuk pertama kalinya saya mengajak Baby Bindi terbang dengan pesawat dan berlibur ke Bali. Liburan kali ini benar-benar saya tujukan buat mengajari Bindi bersentuhan dengan budaya lain. Bali saya pilih karena multikultur. Harap maklum, buat saya traveling itu adalah experience different culture, maka saya pun penginnya Baby Bindi juga mulai belajar bersentuhan dengan kultur lain sejak dini. Setelah lolos liburan ke Bali, Bindi akhirnya saya buatkan passport. Siap-siap buat overseas ya, nduk.

  1. September 2010

Terbit. Sebenarnya naskah dan lay out buku sudah kelar sejak Agustus. Tapi dikarenakan berdekatan dengan Idul Fitri, buku Eurotrip: Safe & Fun baru bisa nangkring di tokot-toko buku sekitar 20 September. Buku ini adalah buku traveling ke dua yang sudah diterbitkan oleh penerbit yang sama.

  1. Oktober 2010

Birthday Trip. Oktober adalah bulan yang selalu memberi keberuntungan buat saya. Oktober tahun ini juga luar biasa karena Baby Bindi genap satu tahun. Berhubung kami sama-sama lahir di bulan Oktober, boleh dong merayakan bersama dengan traveling. Sekali lagi saya memilih Bali, lebih tepatnya Ubud. Kami stay di Ubud selama 4 hari, nggak mampir Kuta sama sekali seperti umumnya wisatawan domestic yang berlibur ke Bali.

  1. November 2010

Nominator. Sungguh, saya tak menyangka bahwa “TALES from the ROAD”, travelogue pertama saya (terbit 2009), terpilih sebagai finalis 5 besar dalam Festival Pembaca Indonesia 2010. Buku yang nggak best seller itu, ternyata mendapat apresiasi yang membuat saya terharu sekaligus bangga dan kian besemangat untuk menulis etnografi perjalanan yang nggak sekedar how to get there.

  1. Desember 2010

Familty Trip to Makassar. Meski sudah berpuluh kali ke Makassar untuk urusan gaweyan, tapi inilah pertama kalinya saya ke Makassar bersama suwami dan Baby Bindi. Bahagianya bisa mengenalkan Bindi pada kultur yang berbeda lagi.



Note:

Januari 2011 masih saya isi dengan mimpi di Januari 2010. Semoga setelah setahun mimpi itu akan berwujud. Live the Dreams!


image source: naturesgrafitti

Wednesday, December 29, 2010

Borough Market, pasar yang bikin lapar


Borough Market, pasar makanan dan kue (food market) ini saya temukan tanpa sengaja dalam perjalanan menuju Tower Bridge. Dari terminal Victoria, saya naik bus dan turun di dekat persimpangan jalan antara Southwark Street dan Borough High Street. Lalu berjalan kaki menyusur Stoney Street yang menurut peta yang saya baca akan membawa saya ke tepian sungai Thames menuju London Bridge dan Tower Bridge. Baru beberapa langkah menyusur jalan itu, mata saya tertegun menemukan los-los pasar buah dan makanan. Langkah saya langsung terhenti mengamati sekeliling. Seketika itu pula saya merasa lapar, lapar mata dan lapar perut!

Bayangkan, di sebelah kanan saya ada los buah dan sayuran untuk salad Elsey & Bent yang menyegarkan mata. Di sebelah kiri saya ada kios Aroma Market yang menjual segala jenis penyedap masakan Italia. Di sebelahnya ada fish shop. Lalu tak jauh di hadapan saya yang tengah berhenti melangkah karena takjub, ada los City Bakery yang menjual aneka bread, pastry, dan cake.

Makin ke dalam langkah saya mneyusur Stoney Street, makin lapar saja perut ini karena makin banyak aneka makanan yang teronggok. Mana sesiangan itu saya hanya menyantap seporsi fish & chip.

Borough merupakan food market yang sudah ada sejak tahun 1014 atau bahkan jauh sebelumnya. Pertumbuhan food market ini tak lepas dari keberadaan London Bridge, yang menarik minat para pedagang untuk berjualan bahan makanan seperti sayuran, ikan, gandum dan biji-bijian. Jumlah pedagang yang berjualan di sekitar London Bridge ini kian bertambah, hingga terpaksa direlokasi di tempat lain yang tak begitu jauh dari London Bridge, yaitu di Borough High Street sejak abad ke 13. Kawasan itulah yang hingga kini kemudian menjadi Borough Market.

Hingga kini Borough Market menjadi food market terbesar dan terlengkap di Inggris. Traders yang membuka kios di Borough Market umumnya bukan sekedar reseller, tetapi juga produsen. Misalnya para penjual kue, mereka kebanyakan menjual kue yang mereka buat sendiri, bukan kue titipan.

Pengin ngintip bagaimana pasar makanan ini menggugah selera kita? Catat hari bukanya ya, soalnya nggak setiap hari. Hanya hari Kamis (11.00 – 17.00), Jumat (12.00 – 18.00), dan Sabtu (08.00 – 17.00). Sebenarnya selain hari-hari itu juga tetap ada pedagang yang menggelar dagangan. Tapi jumlahnya tidak sebanyak pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu.

How to get there

· Naik tube, turun di stasiun London Bridge atau Borough

· Naik bus, turun di London Bridge, Borough High Street, atau Southwark Street

· Jalan kaki di sisi selatan sungai Thames (Southbank) atau jika dari London City menyeberangi London Bridge.

Thursday, December 23, 2010

YORK kota hantu yang cantik



Percaya nggak percaya, York mendapat julukan the most haunted city in Europe. Kota hantu! Konon memang banyak hantu gentayangan di penjuru kota ini. Selain bercokol di bangunan-bangunan kuno warisan Abad Pertengahan seperti York Minster dan St. Mary’s Abbey, hantu-hantu itu juga suka nongkrong di sejumlah bar & café, bahkan tinggal di beberapa hostel. Serem banget ya?

Maklum, hampir semua bangunan yang ada di kota York merupakan bangunan kuno yang berusia ratusan tahun, bahkan lebih dari seribu tahun. Konon, bangunan kuno yang masih bertahan membuat penghuni kota masa lalu itu juga tetap bertahan.

Saking banyaknya hantu di York akhirnya banyak bermunculan biro perjalanan yang secara khusus menyediakan paket “ghost hunting”. Paket wisata hantu ini tarifnya antara £4 - 5 per orang. Wisata dilakukan pada malam hari sekitar puku 20.00 (atau lebih malam lagi) dan berlangsung sekitar satu jam. Destinasinya macem-macem, tiap biro punya rute “jejak hantu” yang berbeda tetapi biasanya menyusur kawasan yang memang dikenal angker seperti di York Minster. Peserta tour akan diajak berjalan-jalan menyinggahi tempat-tempat yang sering terjadi “penampakan” sambil didongengi tentang tragedi jaman Victorian yang menyisakan arwah-arwah gentayangan di sekitar York Minster. Dongeng menjelang tidur yang menyeramkan!

Lalu saya pun bertanya-tanya, memangnya seseram apa sih kota York itu? Di buku-buku traveling York sering digambarkan sebagai kota kecil tercantik di Inggris Utara. Tapi juga selalu ada deskripsi tambahan tentang hantu-hantu yang sering menampakkan sosoknya dalam remang. Ngeri juga membayangkan jangan-jangan nanti saya ketempelan hantu York saat jalan-jalan di sana. Gimana pula kalau mendadak kesurupan, lalu saya menjadi manusia abad pertengahan yang bergaya aristokrat. Atau malah berubah menjadi manusia Viking. Hiiiii….!

Tapi kemudian buru-buru saya tepis, daripada serem membayangkan hantu di York yang bakal nyamperin, mendingan saya menikmati pesona York sebagai city of extraordinary cultural dan historical wealth. York adalah kota kecil di Inggris Utara yang menyimpan warisan sejarah budaya pada masa Romawi, jaman Viking, dan Abad Pertengahan. Sisa-sisa warisan tiga jaman itu berkumpul menjadi satu di sebuah tempat yang dipagari tembok (city walls) sepanjang kurang lebih 3.5 km. Kebayang kan betapa kecilnya York dan betapa di tempat yang kecil itu tersimpan warisan sejarah budaya yang tak ternilai indahnya.

Si kecil York juga memiliki lorong-lorong sempit yang diapit bangunan-bangunan lama berdinding bata merah yang kini difungsikan sebagai café, toko, dan tourist attractions lainnya. Inilah daya tarik lain di York yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain. Di jalan yang sempit itu berduyun turis menyusurinya, menikmati kesejukan kota York sambil keluar masuk dari satu toko ke toko lain. Itulah suasana di Shambles, jalan tertua di York yang paling crowded dan mengundang siapapun untuk ikutan menyusur lorongnya sambil window shopping.

Suasana serupa Shambels sebenarnya dapat dijumpai di hampir semua lorong-lorong York, seperti yang berada di sekitar York Minster, katedral terindah di kota ini. Di mata saya York adalah lorong-lorong sempit dan panjang yang diapit toko-toko berarsitektur kuno abad belasan. Semakin dalam lorong yang kita susuri, semakin mendalam pula keterpesonaan saya pada York. Keterpesonaan yang membuat saya abai bahwa s cantik York ini juga dikenal sebagai Kota Hantu.

FOTO> atas: york minster | tengah: hantu kemayu di taman samping york minster..xixixixi... | bawah: lorong-lorng york yang cantik

Saturday, December 11, 2010

Leeds, a Shopping Arcade Tour



Jika buka karena pengin menghemat akomodasi dengan numpang di rumah seorang kawan, mungkin saya tidak akan singgah di Leeds. Kota yang terletak di Yorkshire Barat (Inggris Utara) ini memang jarang-jarang disebut dalam destinasi wisata. Bahkan mungkin travel agent di Indonesia tidak ada yang mengenal kota Leeds. Saya sendiri juga baru tahu ada kota bernama Leeds hanya karena punya kenalan yang kuliah di sana. Hehe…!

Padahal, menurut Wikipedia, Leeds adalah kota ketiga terbesar (berdasar populasi)setelah London dan Birmingham. Leeds juga merupakan kota di Inggris yang dianggap paling sukses dalam New Urban Revolution. Leeds dianggap berhasil meredisain dan rebranding kotanya menjadi ‘new something of somewhere’. Tapi, apa dong yang menarik dari Leeds untuk wisatawan?

“Leeds kan terkenal dengan shopping arcade-nya,” kata Ima, kenalan saya yang sudah tiga tahun tinggal di Leeds. Kota belanja dong kalau gitu. Apa bedanya sama Hong Kong? Hehehe, makin banyak aja tanda tanya yang berkeliaran di benak saya. Habisnya, sejak kami tiba di Leeds pada sore hari sekitar pukul 19.00 (langit masih terang benderang di musim semi), saya tidak melihat tanda-tanda kota ini layak disebut kota belanja. Apalagi shopping arcade-nya sampai dikenal luas itu. Ah, mungkin karena Ima tinggal di Leeds dan pengin promosi kota tempatnya menuntut studi kali ya? Batin saya penasaran.

Padahal ada produk retail besar yang berasal yang berasal dari Leeds lho. Tahu Marks & Spencer (M&S) kan, departemen store terbesar di Inggris yang juga ada di Jakarta. Selama ini kita hanya mengenalnya sebagai deptstore yang berasal dari Inggris, tapi tidak tahu persis Inggris-nya di kota mana. Ternyata M&S lahir dari sebuah kios kecil di pasar Leeds, yaitu Leeds City Market atau Leeds Kirkgate Market. Nggak nyangka kan?
Michael Marks, pemilik kios di Kirkgate Market itu mulai berjoin dengan Thomas Spencer pada tahun 1884. Duet ini melahirkan brand M&S yang kini mendunia dan memiliki sedikitnya 895 toko yang tersebar di lebih dari 40 negara.

Sejarah perbelajaan Leeds sebenarnya sudah dimulai sejak era Victorian. Pada masa itu Leeds merupakan salah satu kiblat belanja di Inggris. Saat ini pun Leeds masih menjadi kota paling asyik buat belanja bagi yang tinggal di Inggris utara. Saya baru percaya bahwa Leeds merupakan a mecca of shopping setelah mampir ke Victoria Quarter (VQ) shopping arcade. Victoria Quarter merupakan pusat perbelanjaan kelas atas dibangun ulang pada tahun 1989 – 1996. Area ini meliputi sejumlah shopping arcade yang sudah ada sejak abad 19, yaitu County Arcade, Cross Arcade, Queen Victoria Street, dan King Edward Street.

Saya menyempatkan menyusur lorong Cross Arcade dan County Arcade yang membentang antara vicar Lane dan Briggate. Lorong panjang dengan sisi kanan kiri berupa toko-toko branded yang menjual produk kelas atas seperti FCUK, Harvey Nicholas, Louis Vuitton, dan produk branded lainnya. Sepertinya nggak nyangka, kota yang nggak popular di Inggris itu ternyata memiliki sejumlah outlet resmi produk fashion branded.

Selain berisi toko-toko produk kelas dunia, arsitektur shopping arcade juga membuat saya takjub luar biasa. Arsitekturnya menonjolkan atap lengkung yang terbuat dari logam dan kaca. Sementara pada dindingnya terdapat sejumlah mozaik yang terbuat dari batu pualam.

Selain Victoria Quarter, tempat yang asyik melihat orang lalu lalang berbelaja adalah di Briggate, di sebelah timur pintu County Arcade. Suasana orang berlalu-lalang di Briggate ini mirip di Pasar Baru, Jakarta. Ramai. Saya menyempatkan duduk di bangku-bangku kosong yang tersedia di sepanjang ruas jalan di Briggate untuk menikmati lalulalang orang berbelanja.

Oh ya, ada satu lagi tempat belanja yang layak ditengok, yaitu Leeds City Market atau Leeds Kirkgate Market yang telah melahirkan pengusaha retailer besar Marks & Spencer. Leeds Kirkgate Market terletak di seberang Cross Arcade, yaitu di ruas jalan Vicar Lane. Di dalam pasar yang dibangun pada tahun 1875 ini memiliki interitor yang lebih klasik dengan bagian atapnya yang menggunakan glass-roof yang disangga lengkungan logam yang cantik.

Jadi, semalam di Leeds saya bisa menikmati rekreasi mata alias window shopping yang cukup menyegarkan. Ini window shopping dalam arti sesungguhnya loh, karena tak ada satu barang pun yang saya beli di kawasan belanja ini. Saya cuma mondar-mandir menikmati kesibukan orang berbelanja serta mengagumi arsitektur bangunan ini sambil bernarsis ria di depan kamera.

tartan, scottish fashion

Saya masih SD ketika pertama kali melihat orang pake baju Tartan. Orang itu adalah Pangeran Charles dan saya melihatnya dalam acara Dunia Dalam Berita di TVRI. “Laki-laki kok pake rok?” tanya saya polos. Kali lain, di majalah, saya melihat Pangeran Charles berfoto dengan ‘rok’ kotak-kotak dengan sebuah tas kecil yang menggantung di bagian depannya. Dalam gambar itu Lady Diana juga mengenakan gaun dengan motif senada rok-nya Pangeran Charles. Saya makin penasaran dan diam-diam menyukai motif kotak-kotak ala ‘rok’ Pangeran Charles itu.

Setelah baca kisah petualangan Tintin di Pulau Hitam saya baru tersadar bahwa rok yang dikenakan Pangeran Charles mirip dengan rok yang dikenakan Tintin saat bertualang di Skotlandia. Rupanya rok kotak-kotak itu adalah baju tradisional Skotlandia untuk pria yang disebut Tartan Kilt. Tartan merupakan sebutan untuk kain tradisional Skotlandia sedangkan Kilt adalah lilitan kain Tartan pada lingkar pinggang dengan batas bawah hingga lutut menyerupai rok. Untuk memperkuat ikatan digunakan sabuk (belt). Asesoris wajib yang biasanya menyertai Kilt adalah Sporran yaitu tas kecil yang menggantung pada bagian depan tengah Kilt.

Nah, begitu berkesempatan ke Skotlandia, Tartan Kilt menjadi target cenderamata yang saya incar. Pengin beliin Tartan Kilt buat suami tercinta biar kayak Tintin. Beberapa saat setelah tiba di Edinburgh, sambil menikmati sore di kota tua ini, saya juga menyempatkan singgah di toko cenderamata yang masih buka untuk melihat-lihat. Survey pertama itu bikin saya shock. Ternyata harga Tartan Kilt itu muahaaalll, nggak terjangkau buat kantong saya. Baru kain Tartan-nya saja harganya yang termurah seratusan pounds, lalu belt-nya berapa puluh pounds, terus Sporran-nya yang unik itu harganya puluhan hingga ratusan pounds. Kalau mau komplit minimal harus sedia dana £500. Jika dirupiahkan pada saat itu (2007) sekitar 9 jutaan. Tidaaakk…!

Seketika saya men-delete Tartan Kilt dari daftar oleh-oleh.

Meski begitu, saya belum juga beranjak dari konter yang memajang koleksi Tartan Kilt berikut asesorisnya. Bahkan, esoknya ketika menyambangi sejumlah toko souvenir, konter ini menjadi favorit saya, yang membuat saya betah berlama-lama mengamatinya. Iya, saya bisa belajar etnografi Skotlandia di toko souvenir yang menjual baju Tartan ini.

Rupanya, beragam motif Tartan dan asesorisnya itu menunjukkan asal clan (marga) orang Skotlandia. Setiap clan memiliki warna dan motif kain Tartan yang berbeda. Begitu pula dengan simbol yang juga berbeda-beda. Sekedar contoh, misalnya clan Wallace. Warna tartan Wallace adalah kota-kota merah hitam dengan garis kuning. Sementara logonya (crest) bertuliskan Pro Libertate yang berarti For Freedom atau For Liberty. Jadi jangan sampe salah pasang, kalau mau pake Tartan Wallace pasangannya crest Pro Libertate, bukan pake logo Dulcius Ex Asperis milik clan Ferguson.

Asal tahu saja Skotlandia memiliki lebih dari seratus clan. Kebayang kan berapa banyak motif Tartan yang ada. Jika ingin tahu lebih jauh tentang Scottish Clan termasuk jenis Tartan yang dimilikinya dapat diintip melalui situs ini www.ancestralscotland.com. Di situs ini kita juga bisa memasukkan nama tertentu untuk mengecek apakah nama tersebut merupakan salah satu clan dari bangsa Skotlandia atau bukan. Jika merupakan clan, akan terdapat uraian tentang sejarah clan tersebut, daerah asalnya, juga motif dan warna Tartan yang digunakannya.

Oh ya, sebagai pengganti rasa kecewa karena saya tak mampu membeli Tartan Kilt, akhirnya saya hanya membeli selembar kain serbet (50 x 70 cm) Clans of Scotland yaitu gambar peta negeri Skotlandia berisi nama-nama clan sesuai daerah asalnya. Di sisi kanan kirinya terdapat gambar logo-logo clan bangsa Skotlandia. Cenderamata yang murah meriah ini sudah cukup mengingatkan saya akan beragam clan yang ada di negeri di awan itu.


prince charles image is taken from here | clan symbol image taken from wikipedia

[scots language] do you ken?


Saya tidak bisa melupakan peristiwa konyol di konter check in Edinburgh Airport ketika saya akan kembali ke London. Sambil menyerahkan boarding pass dan passport, petugas konter check ini itu mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak saya pahami. “Pardon?” Kata saya sambil mendekatkan telinga, berharap bisa menangkap kata-kata si mbak petugas konter check in itu. Sialnya, hingga tiga kali ia mengulang kalimatnya, tak satu kata pun saya mengerti.

Lalu ia meminta bantuan pada rekan di sampingnya untuk berkomunikasi dengan saya. “Do you speak France?” tanyanya. Saya menggeleng. “Germany?” saya menggeleng lalu. “I speak English,” tegas saya. Petugas itu tersenyum lalu menunjuk pada papan notice yang ada di meja check in bahwa ada larangan memasukkan cairan ke dalam tas. Benda cair harus dimasukkan dalam kantong plastik transparan dan harus dikeluarkan pada saat pemeriksaan di x-ray scanner.

Woalah, barulah saya ngeh dan paham. Rupanya, si mbak tadi menanyakan apakah di dalam tas saya ada benda cairnya. Tapi kenapa bahasa Inggris-nya kayak orang berkumur gitu ya? Satu kata pun tak ada yang bisa saya tangkap.

Sebenarnya, selama di Skotlandia saya memang sudah sering dibikin bingung dengan bahasa Inggrisnya. Logatnya terasa sangat asing di telinga saya. Sebenarnya pula, saya sudah tahu bahwa dialek yang ‘aneh’ itu dikarenakan orang Skotlandia sendiri memiliki bahasa ibu yaitu Gaelic. Bahasa Gaelic yang berasal dari Irlandia itu telah digunakan oleh hampir semua wilayah di Skotlandia sejak abad ke 6. Setelah Skotlandia menjadi bagian dari Inggris Raya, komunikasi dalam bahasa Inggris sering bercampur dengan bahasa Gaelic. Sebagai contoh, orang Skotlandia lebih suka menggunakan kata “aye” ketimbang “yes”, “wee” untuk menyebut “small”, “tattie” untuk menggantikan “potato”.

Konon, orang Inggris sendiri juga masih sering terbengong jika berkomunikasi dengan orang Skotlandia. Apa lagi saya yang baru sekali ini mendengar dialek Skotlandia kan?

Nah, gara-gara salah tangkap itu, saya jadi ngumpulin beberapa phrase yang biasa digunakan untuk berkomunikasi di Skotlandia. Siapa tahu suatu hari nanti balik ke Skotlandia lagi, saya sudah nggak bakalan salah dengar. Hehe…!!!

Scots Language

English

Hiya

Hello

Where are you fae?

Where are you from?

Where do you bide?

Where are you living just now?

You alright pal?

Are you OK?

I’m no bad, and yerself?

I’m OK, how about you?

What er ye like?

What are you like?

Do you ken?

Do you understand?

There’s a wee nip in the air

It’s cold

The nights are fair drawing in

It’s getting darker earlier

Dinnae hav the willies

Don’t get scared

I don’t have a scoobie

I have no idea

I’ve got the glass on you

I’ve been watching you

It’s a grand day

Usually grey sky but without rain

Image: me in Balloch village, Scotland Highland

Friday, December 10, 2010

experience boat cruise


Salah satu tujuan saya mengajak Baby bindi traveling adalah untuk mengenalkan dengan berbagai alat transportasi. Saat jalan-jalan ke Makassar, kami mengajak Baby bindi naik perahu. Nggak jauh-jauh kok, cuma dari dermaga Pantai Losari ke Pulau kahyangan yang ditempuh sekitar 15 menit sekali jalan. Penginnya sih sekalian ke Samalona, biar bisa main air, tapi karena Samalona relatif lebih jauh (30-45 menit), sementara ini adalah pengalamana bindi berperahu, maka saya memilih untuk mengurungkan hasrat. Gak apa yang deket dulu, nanti kalau bindi sudah ketahuan enjoy, bolehlah dicoba lagi berperahu yang lebih jauh.

Ternyata Bindi enjoy banget di atas perahu. Dia takjub melihat hamparan air yang begitu luasnya. Juga kegirangan melihat percikan air laut di sisi kanan kiri perahu. Tangannya menunjuk ke segala arah sambil berkata-kata yang kemudian saya terjemahkan sendiri, "ooww..itu ada kapal besar" atau "ada ikannya nggak ya" atau "lautnya luas ya, bu..."

Sampai di Pulau Kahyangan, Baby Bindi cuma main-main pasir sebentar. Sebenarnya sih dia masih betah berlama-lama, tapi saya yang nggak betah. Pagi itu, saat kami berperahu ke Pulau Kahyangan, sebenarnya tidak dengan persiapan. Iseng-iseng aja nyuapin sarapan pagi Bindi di tepi pantai Losari, lalu pas mau balik ke hotel kami nyari warung coto. Lagi bengong di pinggir jalan yang tak jauh dari dermaga, eh ditawarin tukang perahu. "Gimana, sekalian aja yuk?" tanya saya pada Edo yang langsung disetujui. Jadilah kami yang belum mandi ini berperahu ke pulau Kahyangan.

Oh ya Pulau Kahyangan adalah salah satu pulau kecil yang sering dijadikan tempat untuk menggelar berbagai event. Di pulau kecil ini dibangun sejumlah cottage dan bungalow yang pintunya langsung menghadap ke laut. Juga terdaapt play ground dan panggung hiburan. Katanya, pulau ini jadi tempat yang asyik untuk menikmati lampu-lampu kota Makassar di malah hari.

Setelah berjalan-jalan mengelilingi pulau yang pagi itu tampak sepi (apakah penghuninya masih pada tidur di cottage ya?), akhirnya kami kembali ke perahu. Di atas perahu yang membawa kami kembali, Baby Bindi tertidur, diterpa semilir angin pagi yang sejuk dan bikin mengantuk.

Monday, November 29, 2010

belajar multikultur sejak dini


buat saya, traveling itu bukan sekedar dolan tapi yang lebih penting adalah experience different culture. pada saat kita melakukan perjalanan, tinggal di suatu daerah yang memiliki kultur yang berbeda dengan kita, pasti mau tak mau harus beradaptasi dengan kultur lokal. meski cuma untuk beberapa hari saja.

saya dan baby bindi beruntung bisa tinggal di jogja, di kota yang multikultur. mau ketemu orang dari beragam etnis yang ada di indonesia, bisa dilakukan di jogja karena banyak putra daerah yang melanjutkan studi di kota pelajar jogja. selain itu, di jogja juga terdapat asrama-asrama mahasiswa dari semua propinsi. jadi bisa dibilang jogja adalah miniatur indonesia.

untungnya lagi, saya tinggal di dekat kraton, dekat tamansari di mana banyak turis-turis asing lewat depan rumah. ada turis rombongan pake bus-bus besar, ada pula turis bergaya backpacker yang menggendong ransel dan menenteng buku lonely planet.

sore-sore, saat lagi di luar rumah sama baby bindi, kadang ketemu turis-turis itu lewat. beberapa menyapa dan say hello sama baby bindi. saya lantas mengajari baby bindi untuk membalas sapaan mereka. buat saya, ini adalah salah satu pelajaran multikultur yang bagus dikenalkan pada si kecil. dengan sering bertemu orang dari beragam etnis, niscaya kelak ia akan menjadi anak yang nggak etnosentris dan mendukung keberagaman. amiinn...!

oh ya, selain di jogja, tempat belajar mengenalkan multikultur pada anak adalah di bali, terutama ubud. hingga umur setahun saya sudah dua kali mengajak baby bindi berlibur ke bali. kami tinggal di bungalow murah dan nyaman, di mana hampir semua yang menginap adalah bule-bule. biasanya mereka juga mengajak keluarga dan anak yang masih kecil. nah, baby bindi bisa main-main sama mereka.

foto di atas adalah salah satu dari aktivitas baby bindi saat berlibur di ubud. kolam renang yg tersedia di depan bungalow kami, ternyata jadi salah satu tempat untuk berkenalan dengan kultur lain. begitu nyebur di kolam, bindi dan anak bule perancis itu langsung akrab meski tidak saling berkata-kata.

lihatlah bahasa tubuh mereka. biar kulit dan rambut berbeda warna, tapi mereka bahagia bisa saling mendekat.

Monday, November 15, 2010

how to travel book & travelogue book...


Saya mulai diserang pertanyaan, "Kapan UKTRIP-nya terbit?" dari para pembaca. Sementara dari penerbit, "jangan lama-lama ya!". Padahal, disain kaver buku ini sudah di-approved bulan Oktober lalu. Juga sudah saya pajang di sidebar blog saya dengan penuh rasa percaya diri.

Saya memang bukan orang yang taat deadline. Dalam menulis, sekalipun saat ini saya punya waktu yang lumayan longgar, saya tergolong penulis moody alias mengandalkan mood. Celakanya, kadang-kadang saya lebih bergairah ngurusin hal-hal yang berhubung dengan visual ketimbang teks. Itu sebabnya, disain kaver udah beres duluan sedangkan naskahnya masih sebagian.

Alasan yang kedua, saya lagi bergairah dengan respon para pembaca EUROTRIP. Respon mereka membuat saya bahagia dan makin semangat untuk lebih sering berkoar tentang kisah perjalanan saya ke Eropa. Dan yang tak terduga, ternyata banyak pembaca yang kemudian mencari buku pertama saya TALES from the ROAD. Sungguh-sungguh mengharukan. Buku pertama saya yang sudah sulit ditemukan di toko buku (karena dianggap sebagai buku yang gak laku) itu, kembali dicari-cari.

Belum tuntas rasa haru saya, tiba-tiba saya mendapat informasi bahwa TALES from the ROAD masuk nominasi dalam Festival Pembaca Indonesia 2010. Gubrak..! Seisi meja saya langsung terpental ke mana-mana begitu saya mendapati judul TALES from the ROAD masuk dalam nominasi sebagai karya Non Fiksi Favorit 2010 dan juga nominasi Disain Sampul Non fiksi Favorit. Rasanya nyaris nggak percaya. Bagaimana mungkin buku yang nggak laku, nggak banyak dibaca orang, bisa masuk dalam nominasi.

Jadilah sejak pengumuman itu saya pun gencar woro-woro tentang TALES from the ROAD lagi. Ah, bahkan kali ini lebih gencar ketimbang saat buku ini terbit Juni 2009 lalu. Sebenarnya woro-woro itu -jujur nih- bukan untuk memenangkan polling, karena saya kok pesimis bakal menang ya. Ada karya yang lebih pouler dan banyak diminati pembaca Indonesia kok. Tapi lebih pada membangkitkan rasa percaya diri, bahwa ternyata karya saya ada yang menghargai. Juga membuat saya pengin nulis TALES lagi dengan lebih 'mendalam'. TALES adalah cara saya melihat dunia, melihat apapun yang tertangkap oleh mata selagi saya jalan. TALES adalah tulisan yang keluar dari jiwa saya.

Jadiiiiii....lagi-lagi UKTRIP terhalang oleh hasrat yang begitu kuat untuk menulis kisah-kisah perjalanan sebagaimana saya mengungkapkannya lewat TALES from the ROAD. Padahal, buku traveling seri Trip (Matatita Trip Series) ini jelas-jelas punya gaya (style) penulisan yang berbeda dengan TALES. Trip Series lebih berasa informatif, panduan perjalanan, dan masuk kategori how to book. Sementara TALES merupakan travelogue, kisah perjalanan yang nggak sekedar "I've been here" tapi lebih pada "travel for what" (and for me, travel is experience different culture).

Nah lo..!

Mungkin memang salah saya juga kali ya, kenapa mengeluarkan buku traveling dengan dua style penulisan yang berbeda. Kedua segmen pembaca pun jadi menuntut untuk minta lagi dalam waktu bersamaan.! Oh...!!!

Friday, November 12, 2010

travel organizer andalan saya


Barangkali inilah satu-satunya piranti jalan milik saya yang lebih sering disembunyikan, meskipun sebenarnya cukup keren untuk dipamerkan. Dialah Victorinox Travel Organizer yang bertugas menyimpan segala rupa dokumen perjalanan. Barang berharga saya ini lebih sering ngumpet di dalam ransel, itu pun di tempat yang tersembunyi di bagian dalam ransel. Dia baru nongol keluar dari ransel saat saya membutuhkan dokumen tertentu, misalnya tiket pesawat untk check in di bandara. Kadang-kadang, biar kelihatan gaya, saya sengaja menenteng travel organizer itu hingga masuk ke pesawat.

Kasihan kan, masak dia ngumpet terus di dalam ransel. Padahal dia punya tugas mulia, menyelamatkan dokumen perjalanan, kartu kredit, passport, juga beberapa lembar dollar. Padahal lagi, travel organizer ini saya beli dengan penuh perjuangan. Saya musti menahan diri cukup lama, sejak pertama kali melihatnya di sebuah toko tas di bandara Changi Singapura, hingga akhirnya berhasil membelinya ketika kembali ke Singapura lagi.

Sebelumnya saya menggunakan travel wallet dari Adidas. Ukurannya lebih kecil sehingga bentuknya menggembung jika kebanyakan isi. Padahal, saya juga suka menyelipkan segala macam tiket dan karcis maupun nota-nota yang saya beli selama di perjalanan. Pokoknya, segala rupa kertas yang terkait sama perjalanan saya, pasti tersumpal di travel organizer ini. Begitu kembali ke tanah air (kalo travelingnya ke luar negeri, atau kembali ke rumah kalo traveling di tanah air) saya tak langsung mengeluarkan isinya. Sengaja saya membiarkan semua kertas-kertas itu ada di dalam travel organizer ini hingga dia saya ajak jalan-jalan lagi. Hehe...!!!



Tuesday, November 9, 2010

traveler aji mumpung


Setelah menerbitkan dua buku traveling, dan tengah menulis buku traveling lainnya, saya semakin merasa bahwa sebenarnya saya bukanlah seorang traveler. Bukan pula seorang backpacker atau flashpacker atau apalah istilahnya. Apalagi jika menilik travel-time saya yang ternyata nggak sehebat temen-temen backpacker lain yang saya kenal meskipun mereka belum menerbitkan buku.

Saya hanyalah pejalan aji mumpung. Mumpung dapat tugas ke Paris, ya wis sekalian jalan-jalan ke beberapa negara lain di Eropa. Mumpung tiket Air Asia lagi promo nol rupiah, ya wis di-booking aja buat jalan-jalan ke negara tetangga. Mumpung dapat proyek ngerjain media, ya wis sembari memburu nara sumber sekalian traveling ke penjuru tanah air.

Nah, ketika keberuntungan itu lagi menjauh, saya lebih suka menghabiskan waktu di Jogja saja. Aha..ini juga sebuah keberuntungan ya, bisa lahir dan tinggal di Jogja. Di kota wisata nomor dua di Indonesia setelah bali. Itu berarti setiap hari saya bisa traveling dong. Apalagi saya tinggal di deket Kraton, Tamansari, Alun-alun, gudeg Wijilan..wis lengkap sudah! Orang lain harus menyisihkan waktu dan uang untuk bisa menikmati Jogja, tapi setiap hari saya malah melewati rute wisata itu.

Memang sih, kadang-kadang saya juga off dari gaweyan untuk sekedar leyeh-leyeh di Ubud. Ubud lagi, Ubud lagi. Habis gimana ya, Ubud is my mood sih. Ubud itu mencerahkan jiwa dan bathin saya. Segala yang nyebelin tiba-tiba bisa langsung amblas begitu saya mencium aroma bunga kamboja yang terselip di telinga patung-patung Bali. Itu yang bikin saya sering nggak punya alternatif lain yang bisa dijadikan pilihan tempat buat berlibur. Itu pula yang kemudian membuat saya akhirnya sadar, bahwa ternyata banyak tempat-tempat wisata di Jawa yang jadi terlewat nggak pernah saya kunjungi. Coba, menurutmu ironis nggak, saya sudah lebih dari 20 kali dolan ke Ubud tapi belum pernah sekalipun ke Pantai Pangandaran!

Jadi, saya memang tidak pantas menyebut diri sebagai traveler, meskipun pengin dan punya akun email lost_traveler@matatita.com. Ternyata saya belum menyinggahi tempat-tempat wisata populer yang nggak begitu jauh dari kota saya.

Saya memang suka dan menikmati setiap perjalanan, tetapi bukan orang yang suka menambah destinasi wisata. Buat saya tempat yang pernah dikunjungi bukan berarti jadi tidak menarik jika dikunjungi lagi. Bahkan saya sering menemukan hal-hal baru pada tiap-tiap kunjungan, meski itu berkali-kali dilakukan.

Jadi, jika kemudian saya bisa menuliskan kisah perjalanan dan diterbitkan, tentu bukan karena saya sudah jalan ke puluhan negara, ratusan kota, dan ratusan desa. Bukan kok. Saya rasa mungkin hanya karena saya bisa menuliskannya dan punya perspektif yang sedikit berbeda dengan traveler lain, sehingga ada penerbit yang menganggap tulisan saya layak dibaca publik. Itu saja.

Jadi, sekali lagi, saya hanyalah traveler aji mumpung. Dan semoga dewi keberuntungan nggak mau jauh-jauh dari saya.

Thursday, November 4, 2010

terima kasih sudah menominasikan travelogue saya


Saya layak bersorak dong, ketika TALES from the ROAD masuk nominasi dalam Festival Pembaca Indonesia 2010. Bagaimana nggak girang coba, buku travelogue saya itu kan masuk kategori buku nggak laku versi penerbit. Apalagi jika dibanding dengan buku-buku traveling lain yang sama-sama diterbitkan oleh penerbit buku saya. Juga ketika dibanding dengan buku EUROTRIP yang baru dua bulan lalu beredar dan menurut bocoran penerbit angka penjualannya lumayan. Rasanya TALES jadi sebuah karya yang nggak ada artinya. Bukunya susah didapat karena gak add stock di toko buku dan nggak pernah dipromoin pula. Huks...!

Tetapi sebagai penulis yang menulis dua buku traveling dengan dua style yang berbeda, yaitu travelogue(TALES) dan buku panduan (EUROTRIP) sejujurnya saya merasa lebih puas saat menulis TALES. Bagi saya TALES itu gue banget.

Karena itu saya pengin mengucapkan banyak terima kasih untuk penyelenggara Festival Pembaca Indonesia yang sudah memilih TALES from the ROAD sebagai nominasi Buku Non Fiksi Favorit. Saya yakin, panitia jujur memilih buku yang bergizi yang layak dinominasikan untuk diberi penghargaan. Saya juga salut jika panitia memilih nominator bukan semata karena popularitas penulis karena oplah penjualan buku yang hingga cetak ulang beberapa kali. Buku TALES baru dicetak sekali dan sepertinya tidak bakal dicetak ulang karena penjualannya tidak memenuhi target.

Mengingat tidak banyak pembeli TALES dan tentu saja itu berarti juga tidak banyak yang membacanya, saya tidak berharap banyak pada hasil polling. Dengan kata lain, tidak berharap menjadi penulis yang mengumpulkan polling terbanyak. Buat saya, sudah dinominasikan saja sudah merupakan penghargaan yang tak terkira.

Oh ya, saya juga bangga, ternyata sampul buku TALES juga dinominasikan dalam kategri Sampul buku Non Fiksi.

Ide cover TALES bermula dari kegemaran saya memotret jejak kaki di atas manhole saat traveling. Kebetulan, ketika ke Nepal ada satu manhole yang keren banget, ditulis dengan huruf Nepal. Bahkan saya pun tak bisa membacanya. Entah itu manhole saluran air ataukan manhole untuk jaringan kabel telekomunikasi. Atas bantuan Putri (Timkreatif Regol) foto narsis jejak kaki itu pun terwujud menjadi desain samul buku yang cantik. Lalu ditambahlah beberapa koleksi foto eksotis dari Papua, Bali, Nepal, dan Jogja. Kenapa foto etnis, bukan pemandangan alam? Ya karena memang itulah yang memikat hati saya untuk menjelajah dunia, to experience difference culture.

Kalaupun ada yang sedikit saya sayangkan dari disain cover TALES ini adalah adanya tambahan pointer dari penerbit berupa tips berburu tiket murah, mencari akomodasi irit, dan mengatasi masalah selama di perjalanan yang dijejalkan di bawah judul. Tapi saya tidak bisa protes dong, bagaimanapun penerbitan buku adalah industri, yang sudah pasti berharap untung. Pointer tadi dimaksudkan untuk menggaet pembaca (traveler) Indonesia yang harus diakui memang masih dalam taraf 'how to travel' bukan 'travel for what'.

Oke, silakan buat yang ingin mem-vote TALES from the ROAD, klik link di sini ya... Biar nggak penasaran, inilah daftarnya:

Kategori Non-fiksi:
1. The Naked Traveler 2, karya Trinity, 2010
2. The O Project, karya Firliana Purwanti, 2010
3. Wirausaha Mandiri, karya Rhenald Kasali, 2010
4. Dilarang Gondrong, karya Aria Wiratma, 2010
5. Membongkar Gurita Cikeas, karya George Junus Aditjondro, 2009
6. Sintong Panjaitan, karya Hendro Subroto, 2009
7. Long Distance Love, karya Imazahra, 2009
8. 30 Hari Jadi Murid Anakku, karya Mel, 2009
9. Tales from The Road, karya Matatita, 2009
10. I Can(not) Hear, karya Feby Indirani, 2009

Sampul Buku Non-Fiksi

1. The Naked Traveler 2
2. The O Project
3. Wirausaha Mandiri
4. Dilarang Gondrong
5. Membongkar Gurita Cikeas
6. Sintong Panjaitan
7. Long Distance Love
8. 30 Hari Jadi Murid Anakku
9. Tales from The Road
10. I Can(not) Hear

Selamat mem-voting dengan jujur.

Monday, October 25, 2010

Saturday, October 16, 2010

a publishing company, my dream..




Mimpi awal tahun 2010 untuk bikin trvel books publishing company kembali mengusik di saat 2010 akan berakhir 2.5 bulan lagi. Mimpi itu pernah saya posting di blog multiply pada bulan Januari 2010. Apakah 2.5 bulan cukup untuk merealisasikannya? "Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu," kata Arai dalam Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.

-----
Setelah tahun 2009 lalu dunia kreatif saya nyaris mampet karena sebagian besar energi saya tersedot untuk keluarga, pada bulan pertama di tahun 2010 ini saya pengin mengucuri otak kanan saya dengan mimpi besar merintis bisnis penerbitan.

Syerem banget kedengarannya ya. Sengaja! Saya sengaja membangun mimpi setinggi gedung Burj Dubai, supaya setiap hari saya terpacu mengumpulkan energi untuk mencapainya. Jadi, saya tidak boleh menganggapnya sebagai mimpi yang muluk-muluk. Apalagi mimpi ini sebenarnya sudah cukup lama bercokol di kepala dan kala-kala suka mengusik, membuat saya gelisah pengin segera merealisasikannya.

Sebenarnya juga, saya sudah merealisasikannya. Tahun 2003 saya menerbitkan sebuah buku esai foto tentang kemiskinan di Indonesia. Jumlahnya 4.000 eksemplar yang terdiri dari 2.000 edisi Bahasa Indonesia dan 2.000 eksemplar lainnya dalam Bahasa Inggris. Penerbitan buku itu merupakan hasil kerjasama dengan sebuah NGO di Jakarta. Dana penerbitannya 100% disuntik dari NGO tersebut. Sayangnya buku tersebut tidak dijual bebas, karena untuk kepentingan program kerja NGO tersebut. Namun demikian, buku itu diterbitkan dengan ISBN atas nama perusahaan saya loh!

Itulah untuk pertama kalinya saya berurusan dengan Perpusnas di Salemba untuk mengurus ISBN.

Proyek pancingan pertama itu memang belum berhasil menggaet ikan berikutnya. Meskipun sebenarnya ada beberapa proyek yang nggak jauh dengan writing & publishing yang saya kerjakan. Bukan buku, tapi newsletter dan corporate magazine.

Masih di tahun yang sama, saya memulai pengerjaan newsletter (yang kemudian dikembangkan menjadi majalah) sebuah perusahaan telekomunikasi. Kontrak ini berlangsung dari tahun 2003 - 2007. Pekerjaan yang saya lakukan mulai dari reportase, nulis, lay out, dan cetak. Meskipun per edisi cuma cetak 2.000 eksemplar dan terbit dua bulanan, tapi saya puas mengerjakannya. Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dari proyek tersebut. Yang paling mengesan adalah pelajaran tentang satelit dan teknologi telekomunikasi lain yang sebelumnya nggak pernah saya pahami. Bahkan, teknologi BlackBerry yang sekarang lagi booming di Indonesia, sudah saya odal-adul teknologinya ketika BlackBerry pertama kali masuk ke Indonesia tahun 2004.

Selain mengerjakan corporate magazine tersebut, saya juga mendapatkan kontrak bulanan untuk mengerjakan newsletter dari salah satu provider seluler di Indonesia. Dalam kontrak dari tahun 2004 - 2008 ada 4 jenis newsletter yang saya kerjakan tiap bulan. 3 diantaranya punya deadline yang berbarengan, dalam minggu yang sama, yaitu antara tanggal 20 - 25 setiap bulan. Kebayang kan betapa tiap tanggal itu kepala saya jadi kemut-kemut buat nulis dan mensupervisi lay out. Begitu terlepas deadline, seminggu beristirahat, dan minggu berikutnya sudah harus melanglang buana mencari data dan reportase. Proyek ini lah yang membuat saya bisa berkeliling Indonesia.

Sayangnya, persaingan tarif murah di industri telekomunikasi seluler Indonesia membuat perusahaan tersebut memangkas biaya promosi, antara lain proyek newsletter yang diperuntukkan buat pelanggannya itu terpaksa tidak diterbitkan lagi. Praktis di tahun 2009 saya kehilangan job jalan-jalan backpackeran keliling Indonesia itu. Sedih juga, tapi ada untungnya juga. Karena ternyata, di tahun 2009 Gusti Allah sudah punya agenda merumahkan saya.

Setelah hampir setahun di rumah ngurus keluarga, saya mendapat kesempatan business trip lagi. Dua minggu setelah kehadiran Baby Bindi, saya mendapat undangan mengikuti pitching (tender) dari klien lama di Jakarta. Ada 3 proyek yang di-pitching-kan, yaitu corporate newsletter, video presentasi, dan booklet sales kit. Saya udah berharap banget bisa kembali mendapatkan proyek newsletter yang vacum selama setahun. Membayangkan bakal traveling dan reportase lagi tiap dua bulan (karena bakal terbit dua bulanan) membuat akhir tahun 2009 serasa menyuntikkan gairah dalam hidup saya.

Tapi saingan pitching kali ini cukup berat. Salah satunya adalah perusahaan jasa media yang sudah menerbitkan sejumlah media komersil yang dibagikan gratis di mall - mall di Jakarta. Dan ternyata, memang dialah yang jadi pemenang. Meski sedikit gelo karena nggak bisa lagi bekerja ala jurnalis, tapi saya rela kok karena pemenangnya adalah perusahaan yang memang mumpuni di bidangnya. Toh, saya juga masih kebagian memenangkan proyek lainnya, yaitu bikin booklet sales kit setebal 56 hal ukuran folio yang dicetak full color sebanyak 13.000 eksemplar. Lumayan kan?

Karena pekerjaan itu tidak memanfaatkan writing skill saya, rasanya kok ya kurang puas ya. Saya selalu merindu pekerjaan yang memaksa saya harus menulis, meskipun nilai proyeknya nggak segeda kerja kreatif lain.

Karenanya saya pengin membulatkan hasrat untuk merintis bisnis penerbitan di tahun ini. Prioritasnya penerbitan media dulu yang memang menjadi passion saya sejak remaja. Setidaknya saya bisa menghidupkan REGOLmagz lagi. Atau apes-apesnya ya nerbitin buku lah. Buku orang lain atau buku saya sendiri juga nggak masalah. (Eh, saya masih punya stok travel writing yang bisa diterbitkan jadi buku loh).

Saya sadar masih ada beberapa kendala yang butuh usaha keras untuk mengatasinya, terutama modal (baca: duit gede). Pasti dong, kalo mau nerbitin media dibutuhkan modal yang lumayan untuk biaya cetak. Saat ini saya lagi golek-golek utangan nih. (Ada yang berminat menjadi investor?)

Wednesday, October 13, 2010

my birthday wish: EUROTRIP dan trip-trip lainnya


Jujur nih, selagi merampungkan naskah EUROTRIP sepanjang Mei - Juni 2010, pikiran saya bercabang-cabang mengenang trip-trip lainnya. Pengin banget bisa menerbitkan trip-trip lain itu. Saat saya buka-buka foto dan jurnal di blog yang membuat ingatan saya makin mengembara, saya makin bersemangat. Mulailah saya berkhayal-khayal tentang Matatita Trip Series yaitu buku traveling yang saya tulis. Kalo diseriusin alias saya serius mengerjakannya, dijamin bisa jadi beberapa buku.

Tapi saya tengah dihantui deadline untuk segera merampungkan EUROTRIP. Begitu EUROTRIP kelar dan rampung cetak, saya pun bertanya ke Editor, apakah sudah ada yang mengajukan naskah traveling ke Inggris. Rupanya, nasib baik berpihak pada saya: belum ada. Saya pun kegirangan (meskipun disembunyiin dalam hati). "Oke, kalau gitu saya pengin nulis UKTRIP...!" jawab saya.

Kesepakatan itupun langsung diworo-woro. Nggak cuma di blog dan FB...sewaktu on air di radio pun udah mulai berkoar jika saya sedang menulis naskah UKTRIP. As always...kaver buku udah dikerjain duluan dan diajukan ke penerbit. Juga sudah dipilih alais sudah di-acc. Hhmm..jadi makin semangat ngrampungin tulisan lagi nih (kemarin sempet terhenti karena sibuk jualan EUROTRIP..hehehe).

Setelah UKTRIP...saya pengin nulis NEPALTRIP. Pihak penerbit 3 bukuku sebelumnya sepertinya sudah punya naskah tentang Nepal, jadi kemungkinan NEPALTRIP akan diterbitkan sendiri oleh Matatita & Co. (weiittzzz...dari travel writer menjadi travel publisher? Boleh dong, memimpikan The Wheeler and Lonely Planet..)

Selain itu juga ada beberapa naskah traveling dalam negeri yang harus saya kejartayangin yaitu PAPUATRIP, BORNEOTRIP, CELEBESTRIP, dan MOLUCCASTRIP...! Sebenarnya naskah tersebut merupakan proyek Matatita & Co untuk menerbitkannya. Tapi sepertinya pihak penerbit juga tertarik meskipun belum ada kesepakatan tertulis. Buat saya, siapapun yang akan nerbitin, yang penting target menyelesaikan sejumlah buku traveling dalam negeri bisa kelar setahun ini. Biar nggak dituduh western-minded, wong saya sudah blusukan ke penjuru Tanah Air kok...I love Indonesia gitu loh!

Friday, October 8, 2010

baby food on the go


Penginnya sih bisa bikinin fresh food sepanjang hari sepanjang masa buat Baby bindi. Tapi kalau lagi traveling dan nginep di hotel, mana sempat? Kalo disempet-sempetin emang sempet sih, tapi pasti ribet banget karena harus bawa alat masak dari rumah. Enggak mau lah. Mending travelingnya ditunda aja sampe si baby sudah tumbuh menjadi kid. Hehe...!

Menanamkan semangat petualang pada si kecil memang nggak semata-mata belajar ngajakin si kecil sering ke luar kota kok. Yang lebih penting justru mengubah mindset kita sebagai orang tuanya, bahwa traveling atau backpacking itu mau nggak mau memaksa kita berkompromi dengan berbagai keterbatasan. Kompromi ini berlaku pukul rata, biar bocah masih berumur bulanan juga musti bisa kompromi dengan keterbatasan. Nah, kalau kita belum siap mental, sebaiknya menunda agenda traveling luar kota dulu lah. Daripada nanti jadi stress diserbu berbagai pertanyaan dari kerabat dan teman-teman, "gila, jadi tiap hari anakmu cuma dikasih makanan instan dan air minum botolan?"

Buat saya, pertanyaan itu mirip dengan yang biasa dilontarkan kalau saya traveling sendirian, "kamu kan perempuan, kok traveling sendirian ke luar negri?"

Jadi, saya sudah lumayan kebal dengan komentar-komentar sejenis itu. Komentar yang nggak perlu ditanggapi, tetapi butuh dimaklumi. Maklum, masyarakat agraris memang belum menempatkan traveling sebagai kebutuhan. Berbeda dengan masyarakat industri di mana waktu luang dan rekreasi itu sesuatu yang harus diperjuangkan.

Makanan instan itu tidak buruk kok. Buktinya Baby Bindi tidak terganggu pencernaannya saat mengkonsumsi makanan instant selagi traveling. Makanan instan yang saya pilih adalah yang siap santap, yaitu makanan dalam botol kecil.

Ada beberapa merk makanan siap santap yang sehat dan aman yang biasa saya beli, antara lain Heinz, Babynat, dan Gerber. Seringnya sih Bindi makan Heinz. Rasanya nikmat dan manis, emaknya juga suka. Biasanya saya pilih Heinz yang buah-buahan. Sedangkan yang sayuran organik, saya pilih produk Babynat. Tekturnya sedikit kasar, tidak berasa manis dan asin. Nggak enak banget buat lidah orang dewasa, tapi malah cocok buat Baby Bindi. Sedangkan untuk rasa ayam dan daging, biasanya saya menggunakan produk Gerber.

Oh iya, selain makanan solid utama, saya juga sedia snack buat Bindi. Snack favoritnya adalah Gerber Graduates Puff dan Baby Choice.

Produk-produk makanan import itu tersedia di supermarket di kota besar. Jadi, waktu liburan ke Bali, saya nggak erlu bawa stok banyak-banyak dari Jogja. Cukup bawa 2 botol untuk jaga-jaga di perjalanan (eh, malahan di pesawat Baby bindi dapet paket baby food dari Garuda berupa 2 botol Heinz. Horeee...!!!) Begitu tiba di Bali, agenda pertama adalah belanja baby food dulu di supermarket.

Baby food botolan ini super praktis, langsung disuapin dari botolnya aja. Jadi, hemat energi, nggak perlu nyuci mangkuk segala. Hehe....!

yuks, ke candi....


Waktu saya masih balita (sekitar tahun 76-77), hampir setiap hari Minggu Bapak mengajak saya ke Candi Prambanan. Dari rumah kami di tengah kota Jogja, kami bermotor Honda Bebek seri 70. Sebelum sampai Prambanan, biasanya kami singgah di galeri Sapto Hudoyo. Saya masih ingat, tangan-tangan mungil saya suka banget megang-megang patung bergaya asmat yang tinggi menjulang di halaman galeri. Kadang-kadang Bapak mengangkat tubuh saya agar bisa meraih bagian patung yang lebih atas.

Setelah dewasa, saya sering mengaitkan pengalaman masa kanak-kanak berwisata di galeri seni dan situs arkeologis dengan ketertarikan saya pada bidang sejarah, antropologi, seni, dan arsitektur. Meskipun tidak sepenuhnya benar, tapi sedikit banyak saya yakin ada kontribusinya. Apalagi, waktu bocah porsi jalan-jalan saya sebagian besar memang ke tempat-tempat seperti itu. Ke kraton dan sekitarnya sudah pasti tiap hari karena dekat tempat tinggal kami. Lalu ke candi-candi di sekitar Jogja, ke semua museum yang ada di Jogja, juga main ke galeri seni yang kebetulan juga banyak di Jogja. Selain itu juga masih ditambah dengan kegiatan nonton berbagai seni pertunjukan, dari mulai wayang kulit hingga wayang wong.


Sekarang, kebiasaan itu saya tularkan pada Baby Bindi. Kebetulan Edo juga juga punya ketertarikan yang sama dan setuju bahwa wisata heritage juga layak dikenalkan pada anak-anak sedini mungkin. Jadilah setiap hari, pada pagi hari, selagi saya sibuk di dapur menyiapkan menu sarapan, Edo mengajak Bindi jalan-jalan ke Pulo Cemeti (Tamansari) atau Kemagangan (Kraton bagian belakang). Kadang-kadang saya juga ikutan sambil membawa semangkuk bubur buat sarapan Bindi. Seru juga loh, nyuapin Bindi di kawasan heritage.

Saat weekend, Sabtu atau Minggu, barulah kami wisata heritage yang agak jauh. Ke Candi Prambanan, Candi Ratu Boko, atau situs-situs lain.


Pilih W
aktu: Pagi atau Sore
Sudah pasti kalo wisata candi bersama si kecil kudu milih waktu yang tepat, saat matahari tidak sedang tinggi-tingginya. Mungkin banyak yang nggak tahu bahwa loket karcis wisata candi biasanya buka pada pagi hari pukul 06.00 dan tutup pada pukul 17.00. Jadi kita bisa datang pagi-pagi saat matahari masih memancarkan sinar yang kaya vitamin D, atau saat senja menjelang. Loket ditutup pukul 17.00, tapi kita masih bisa jalan-jalan di dalam kompleks candi hingga pukul 18.00. Cukup teduh kan?

Baby Carrier
Biar si kecil nyaman selama diajak muter-muter kompleks candi, biasanya saya menggunakan baby carrier berupa ransel gendongan bayi. Ransel ini cukup nyaman buat Bindi, malah kalau kecapean dia bisa loh tertidur. Buat Emak dan Bapaknya yang nggendong juga nyaman, terasa lebih enteng, kayak nggendong ransel kalo lagi backpacking. Selain itu, ransel ini juga bisa berfungsi sebagai kursi. Kalo capek, saat kami beristirahat, ransel diturunkan dan diletakkan di atas permukaan datar. Si Bindi nggak perlu dikeluarkan dari ransel, karena dia udah serasa duduk aja di sana.

Kalau nggak punya ransel gendongan, saya sarankan pake gendongan bayi yang memungkinkan si kecil digendong menghadap ke depan. Biar si kecil bisa ikutan liat-liat kemegahan warisan nenek moyang kan?

Stroller? Hhmm..kayaknya malah merepotkan, mengingat bakal banyak undak-undakan dan jalan nggak rata.

Bekal Makanan
Paling asyik saat istirahat sambil buka bekal makanan. Kami biasa mengaso di tempat terbuka, di bawah pohon rindang. Sangat disarankan bawa tikar kecil atau alas duduk, biar si kecil bisa lebih leluasa beristirahat. Bisa guling-guling atau merangkak. Hehe...! Kalaupun kelupaan bawa alas duduk (seperti kebiasaan kami yang pelupa ini), bisa juga duduk di bongkahan batu candi yang permukaannya rata. Biasanya di tempat tertentu ada bertumpuk bongkahan batu candi sisa pemugaran yang belum ditata lagi. Asyik juga kok mengaso di sana.

Topi & Payung
Namanya juga jalan-jlaan di ruang terbuka, outdoor, ya jangan pake baju kecentilan dulu ah. Sebaliknya pake baju yang casual, mudah menyerap keringat. Biar nggak kepasan, jangan ketinggalan topi dan payung ya.

image (urut dari atas):
1 & 2 : kebangetan kalo nggak tahu..itu Candi Prambanan
3 : di Pulo Cemeti, Tamansari Water Castle
4 : Berlatar gapura Candi Ratu Boko...keren kan?

Thursday, October 7, 2010

why we travel


Percaya nggak percaya, waktu saya pamitan mau ngajakin Baby Bindi jalan-jalan ke Bali, mbok Nem nangis loh. Katanya, nggak tega ngebayangin Bindi diajak pergi naik pesawat trus di Bali cuma jalan dari satu tempat ke tempat lain. Nggak kebayang kayak apa nanti capeknya Bindi. Pasti nanti sepanjang jalan cuma rewel.

Saya nyengir dan tidak memberi komentar apapun. Saya memaklumi jika mbok Nem, yang orang kampung itu, tidak mengenal konsep "travel will teach us how to struggle in life". Bagi dia, traveling itu cuma buang uang dan bikin capek. Nggak ada untung-untungnya sama sekali. Harap maklum, itulah konsep traveling yang dipahami oleh masyarakat agraris seperti mbok Nem yang juga belum prnah naik pesawat.

Padahal, buat saya, ngajakin traveling Baby Bindi sejak dini memberikan banyak experience yang tak ternilai harganya. Nggak cuma buat bocahnya, tetapi juga buat kami berdua sebagai orang tuanya.

Oke, mari kita urai satu per satu kira-kira benefit apa yang bakal kita dapat dengan mengajak plesiran si kecil.

For Baby:
  • Belajar mengenal lingkungan baru yang lebih luas. Itu pasti dong. Saya masih ingat ekspresi kagetnya Bindi ketika malam itu di kamar hotel di Legian Bali saat dia terjaga minta mimik. Matanya langsung melihat sekeliling, mungkin merasa asing tidur di tempat yang nggak biasanya. Juga ketika dua hari kemudian kami pindah hotel di Ubud, dia lihat sekeliling kamar. Kok beda lagi ya, mungkin begitu pikirnya. Tapi karena ada Emak dan Bapaknya, Bindi pun tenang, nggak protes meski keheranan dengan suasana baru yang dilihatnya.
  • Bertemu dengan wajah-wajah baru (multietnik). Saya sengaja mengajak Bindi ke Bali, supaya banyak ketemu bule. Sebenarnya di Jogja juga sesekali liat bule lewat depan rumah, tapi kan nggak sebanyak di Bali. Nah, di Bali kesempatan untuk berada di antara bule -bahkan menjadi satu-satunya turis lokal- sangat mungkin. Di hotel tempat kami menginap di Ubud, malah cuma kami yang turis domestik. Serunya lagi, Bindi nggak takut liat badan-badang bongsor para bule. Malah bisa senyum-senyum juga ketika mereka say hello. Dengan mengenalkan ras dan etnik lain yang dilihat Bindi, saya berharap dia bisa bertumbuh menjadi manusia yang menghargai keberagaman.
  • Mencoba berbagai alat transportasi. Target utama saya saat liburan ke Bali adalah ngajarin Bindi naik pesawat. Penasaran aja, apakah Bindi bakal enjoy selama penerbangan atau malah nangis histeris seperti yang sering saya lihat di pesawat. Banyak loh, anak-anak kecil yang jadi rewel begitu masuk ke badan pesawat, terutama sebelum take off. Mungkin karena tekanan udaranya rendah, terus biasanya juga gerah karena AC-nya belum jalan. Alhamdulillah...bindi malah hore-hore tuh di pesawat, sampe dituduh pramugari udah biasa terbang.
  • Menguji stamina dan daya tahan si kecil. Namanya juga lagi traveling, nggak sempet deh bikin makanan bubur dan sayuran segar seperti di rumah. Selama traveling Bindi cuma makan baby food Heinz dan buah pisang. Susu botolnya pun enggak hangat lagi, karena hanya dicairkan dengan air mineral botolan. Maafkan Emakmu ya, Nduk. Tapi, beginilah hidup. Adakalanya harus survive dengan kondisi apapun. Syukur alhamdulillah, pencernaan bindi tetep sehat. Pup-nya normal, perutnya nggak kembung, dan yang jelas tetap fit selama 4 hari traveling. Bahkan, sampe di Jogja apa yang dikawatirkan mbok Nem tidak terbukti. Bindi tetap hore-hore ceria, nggak lesu kecapekan tuh.

For Parent:
  • Belajar mengelola waktu. Gila deh, sebagian besar waktu saya selama traveling habis untuk ngurusi 'ritual'-nya Bindi. Nyiapin makanan, mandiin, ganti diapers, mimik susu, menidurkan, dll. Akhirnya, destinasi jalan-jalannya pun juga nggak bisa banyak-banyak. Nggak apalah, toh kami udah biasa ke Bali. Kali ini ke Bali kan buat Bindi, bukan buat saya belanja-belanji.
  • Belajar mengelola emosi. So pasti. Ketika diburu ribet ngurusin Bindi, badan capek, bobok gak bisa nyenyak...kalau nggak belajar bersabar pasti acara traveling jadi runyam karena uring-uringan. Nah, kalo udah uring-uringan, kasihan si kecil kan? Jadi, kalo kita bisa menahan emosi selagi traveling dan tetap fun meski ribet, niscaya akan semakin mendewasakan kehidupan rumah tangga kami.
Itu tadi hanya sebagian kecil manfaat plesiran bersama si kecil. Oh ya, tapi yang harus digaris bawahi atau cetak miring dan cetak tebal adalah bahwa plesiran bersama si kecil ini dilakukan secara independent dan tidak membawa serta baby sitter.

stroller on the go


above: bindi's first stroller
below: the new one is smaller


Saya rasa sebagian besar orang tua berpendapat sama, bahwa stroller adalah travel gear pertama yang pengin dimiliki begitu punya baby. Saya pun begitu. Bahkan saya sudah sangat kebelet beli stroller sejak Baby Bindi usianya belum genap 2 bulan. Tapi kalo membeli stroller khusus newborn atau yang biasa disebut kereta bayi, palingan nggak bertahan lama kepake. Begitu Bindi lehernya udah kuat menyangga kepala dan udah mulai suka melihat sekeliling, kereta bayi udah gak cocok lagi.

Karena pengin ngirit, kami lantas membeli stroller yang bisa 'ngunduri gedhe' yaitu stroller yang difungsikan untuk baby yang sudah bisa duduk, tapi sandarannya bisa direbahkan. So far, stroller itu nyaman-nyaman aja buat Bindi. Cuma, setelah Bindi mulai diajak traveling ke luar kota, kok rasanya stroller itu kegedean di bagasi ya. Nggak slim dan kesannya nggak mobile gitu. Apalagi kalo ngeliat bule-bule yang dorong stroller imut buat anak batita (toddler) mereka. Eh, Bindi kan udah nggak newborn lagi, masih infant sih, tapi bentar lagi sudah toddler.

Untungnya, nggak cuma saya yang terganggu oleh hal ini. Edo juga. Itu berarti, jika suatu saat nemu stroller yang imut mungil dan cocok buat toddler, pasti nggak bakal berdebat untuk membelinya.

Kami pun jadi mulai rajin lirik-lirik stroller. Kalo ketemu ibu-ibu di mall yang dorong stroller, dari kejauhan udah kami perhatiin. Waktu di Bali, mata kami jadi nanar kalo liat bule dorong stroller mungil dengan penumpang toddler umur 2 tahunan. Sebenarnya si toddler udah bisa lari-lari, tapi biar jalannya bisa ngimbangin langkah kaki ortunya yang panjang-panjang, mendingan didudukin di stroller mungil aja. Juga ketika saya ke Eropa beberapa waktu lalu, ketemu banyak emak-emak bule yang mendorong stroller di mana-mana, di stasiun, di park, atau lagi nyebrang jalan. Gemes banget melihatnya. Mana strollernya keren-keren pula!

Setelah beberapa bulan menjadi pengamat stroller, akhirnya tanpa sengaja kami nemu stroller imut dan lucu yang harganya murah meriah (hhhmm...hanya 1/4 dari harga stroller pertama yang kami beli). Warnanya ijo tosca dengan rangka besi berwarna putih, bukan warna silver seperti kebanyakan stroller.

Pandangan pertama pada stroller yang kami temukan di Carrefour itu langsung berujung pada transaksi. Apalagi ternyata stroller itu nggak ada stock lainnya, tinggal satu-satunya. Artinya, nggak bakal ada yang nyamain atau kembarannya di Jogja. Setidaknya, itulah harapan kami. Seneng dong kalo punya barang yang nggak ada kembarannya. Berasa ekslusif gitu. Hehe...!

Tapi yang jelas, karena bentuknya slim dan mungil, stroller ini jadi pas banget didudukin bindi. Bandannya jadi nggak tenggelam karena kegedean stroller. Kesannya jadi mobile dan dinamis (halah..!) Selain itu, juga lebih ringkas, sehingga kalo traveling bakal lebih enteng.

"Cocok nih, buat nyusur jalan di Singapore," kata saya sambil melirik Edo. Yang dilirik cukup sadar diri, "kan kamu bilang nunggu kalo Bindi udah bisa jalan...!"

Iya ya..sekarang baru 'rambatan' alias belajar jalan sambil pegangan dinding. Moga-moga pas genap setahun akhir bulan Oktober ini Bindi udah bisa jalan yaaa... Supaya emak dan bapaknya bisa ngajakin terbang lebih jauh lagi...! Amiiin....!!!